Cerita Sex Goodbye, My Stupid School – Part 20

Cerita Sex Goodbye, My Stupid School – Part 20by on.Cerita Sex Goodbye, My Stupid School – Part 20Goodbye, My Stupid School – Part 20 # 4 Fourth Unicorns (II) Apa? Ngasih keperawanan? Sherry melotot. Hahahaha, lo gila, ya, Gizh? Tawa Cheska meledak. Belum tentu juga Radit bakal mau jadian ama lo, meski lo kasih selaput dara lo gratisan! Get real, Honey, Well… terserah kalian mo nganggep ini serius ato nggak, balas Giztha […]

multixnxx- Maki Koizumi Maki Koizumi with big chest-6 (1) multixnxx- Maki Koizumi Maki Koizumi with big chest-6 multixnxx- Maki Koizumi Maki Koizumi with big chest-7 (1)Goodbye, My Stupid School – Part 20

# 4

Fourth Unicorns (II)

Apa? Ngasih keperawanan? Sherry melotot.

Hahahaha, lo gila, ya, Gizh? Tawa Cheska meledak. Belum tentu juga Radit bakal mau jadian ama lo, meski lo kasih selaput dara lo gratisan! Get real, Honey,

Well… terserah kalian mo nganggep ini serius ato nggak, balas Giztha tenang menatapi satu persatu wajah sahabatnya. Yang pasti, lo semua tau gue kan? Kalo soal cinta dan hati… gue nggak pernah main-main!

Malam yang indah, diterangi bulan hampir purnama. Di sudut suatu rumah mewah di kota Bandung, bercengkramalah tiga orang bidadari langit turun ke bumi tebarkan riangnya. Bukan sungai tempat mereka kini bermain-main dengan air. Pun, bukan pula hutan tempat mereka kini bercanda tawa. Melainkan, istana modern milik seorang konglomerat besar ternama.

Dengan harta plus kekayaan yang ia kuasai, tentu saja sang Pengusaha Brilian mampu membuat satu hunian nyaman layaknya pemain game The Sims 3 menggunakan cheat uang. Besar, luas, kokoh, serta dilengkapi fasilitas-fasilitas unik yang tak semua rumah mampu menyediakannya. Salah satunya adalah, sebuah hot tub asri di pojok halaman belakang yang bergaya alami berbahan bebatuan. Dilindungi tembok tebal setinggi tiga meter membatasi area luar, serta bilik-bilik kayu dengan pintu terkunci rapat lindungi privasi, bisa berekspresi secara bebas orang-orang di dalam sana melakukan apapun. Memakai apapun. Atau, tidak memakai apapun. Tiada siapapun yang bisa melihat. Kecuali uhm mungkin satelit mata-mata negara adidaya dan orang yang menempati kamar Astrid.

Sudah pasti, keadaan menguntungkan macam demikian habis dimanfaati sebaik-baiknya oleh Cheska and friends.

Kecuali Giztha yang memang agak-agak doyan memamerkan area sensitif pada teman lelaki, tiada seorangpun di sana yang bakat sifat eksebisionis. Mereka adalah kumpulan sahabat. Sangat kompak. Erat bagai saudari, dan saling menyayangi. Namun, walau begitu, tetap saja ada hasrat dalam diri mereka untuk saling pamer serta mempertontonkan pesona keindahan tubuh pada satu sama lain. Itulah sebabnya ketiga gadis itu selalu sangat antusias jika mengadakan acara ber-hot tub ria dengan mengenakan bikini. Bunga-bunga cantik bermekaran. Mereka sangat muda. Liar, seksi, dan penuh percaya diri. Bangga dengan keranuman tubuh masing-masing.

Sesi curhat, adalah potongan acara rutin dalam kegiatan mereka. Dan kini, Unicorns pun digemparkan oleh rencana Giztha yang hendak menyerahkan kegadisannya pada sang Pria Pujaan.

Tujuan utama, memikat serta menaikan posisi lobi untuk bersaing mendapatkan cinta Radit.

Keberhasilan Radit mendapat gelar pemain terbaik di kompetisi basket SMU nasional, dipilih sebagai alibi, setelah option hadiah ulang tahun tak lagi memungkinkan, berhubung telah lewat.

Ini super konyol, Giztha. Beneran bego! Serius aja? Cuma karena dapet MVP di kompetisi basket? sergah Cheska yang bersandar santai di sisi hot tub-nya. Seraya memutar bola mata, pantatnya sedikit ia ingsutkan ke samping, memberi ruang kepada Sherry yang baru ikut bergabung. Usai mengikat rapi rambut panjang indahnya, turut berendam gadis semampai berparas cantik khas oriental tersebut ke dalam air, membawa segelas penuh wine di tangan.

GuanYinPing, begitulah ID kode buat dirinya di ponsel Faruk nan penuh chatting-an nakal. Dan, Gerry serta Fanny terlalu lemot untuk menebak.

Sekilas, lirikan mata Cheska mendelik ke samping. Perlahan ia menelan ludah. Bukan karena Chardonnay wine-nya. Namun, lebih lezat daripada itu. Bongkahan buah dada besar Sherry yang membulat kencang membuat bikini top-nya seperti kesempitan.

Malam ini, Sherry tampil dahsyat dengan bikini set warna putih. Sama seperti halnya Cheska, penutup selangkangan miliknya pun gagal menjalankan fungsi dengan baik. Tercetak jelas bentuk daging kewanitaan sang Gadis yang ‘tembem-nya bikin gemas.

Kamu yakin, Gizthy sayang, mau ngasih kesucian kamu ke Radit? timpal Sherry lembut menyesap anggur hangatnya. Itu persembahan sekali seumur hidup, lho, Gizthy. Sekali Radit nyetubuhin kamu, kamu gak akan sama lagi kayak seperti sekarang. Tau maksudku, kan? Ia memberi nasihat.

Giztha mengangguk mantap. Tersurat yakin dari gurat mukanya jika wakil ketua klub sastra/literatur SMU DNS terbuang itu kukuh pada keputusannya. Dari dulu gue emang udah mimpi diperawanin Radit, Sherry. Gue pengen banget dia ambil kegadisan gue. Rubah gue jadi wanita dewasa seutuhnya, kayak lo. Tapi,

Giztha meneguk gelas wine-nya sejenak. Memberi jeda pada dua temannya yang diam terpaku bak interogator professional.

Tapi gue bingung gimana caranya. Gue gak tau lagi harus gimana supaya Radit jatuh cinta and mau pacaran ama gue. Nah, gue pikir, kenapa gak gue korbanin aja duluan harga diri gue? Bakal gue tunjukin apa yang sanggup gue berikan untuk dia. Ia melanjutkan. Kembali mengalirkan cepat cairan beralkohol pada tubuhnya. Dan gue gak bakal nyesel. Apapun yang terjadi, gue bakal ngerasa menang. Gue cinta mati ama Radit! Lagipula, gak seenteng itu, kok, gue bakal bugil ngangkang di depan dia. Ada sedikit permainan yang pengen gue kasiin ke Radit, hehehe. Seketika, raut wajah Giztha berubah nakal. Berkilat terang kalung berbandul pentagramnya memantul cahaya lampu taman. Serasi menggantung dengan balutan bikini seronok berwarna hitam yang gadis mungil itu kenakan.

Well, Sherry menarik napas.

Tetep aja tolol bin idiot. Cheska menepuk dahi, facepalm Tapi, yah seengaknya masih lebih masuk akal, lah, daripada mejik-mejikan lo dulu. Tetesin darah ayam di kertas bergambar-gambar aneh. Sick!

Giztha tertawa. Mulai merona merah paras binal kekanakannya. Menatap tajam Cheska dan Sherry. Bibir tipisnya berkata, Siapa bilang ini GAK ada hubungannya dengan magic, Darlin?

Hah? Apa?

Maksud lo?

Sementara dua temannya kaku melongo heran, Giztha pun perlahan beringsut naik dan duduk di tepi hot tub. Ia keluarkan sekujur tubuhnya dari hamparan air hingga hampir seutuhnya bisa terlihat jelas. Jari-jemari lentiknya beraksi. Ia tarik tali pengikat kain penutup selangkangannya sesensual mungkin. Pluk Tak butuh waktu lama untuk menunggu benda kecil pelindung kehormatan wanita itu mengambang di air.

Tau apa yang bisa membuat lelaki tergila-gila? Membuat mereka terhipnotis? Menyihir mereka hingga berlaku bodoh bak kerbau dicucuk idungnya?

Giztha mendesahkan napas. Seraya sedikit menggigit bibir, ia singkapkan kedua kaki mulusnya lebar-lebar. Ia perlihatkan area pusat pangkal pahanya yang kini polos telanjang tanpa pelindung apapun pada temannya. Tentu saja Sherry dan Cheska tahu apa yang tersembunyi di sana. Pucuk Mahkota paling pribadi kaum wanita.

Whooow., Sherry tersenyum kecil.

GAHH! That little pussy, Bola mata Cheska seketika berbinar terang.

Sunyi sesaat di kala itu. Mengalun pelan lantunan lagu Your Body is a Wonderland-nya John Mayer dari portable player. Garis daging kemaluan Giztha yang masih menjepit rapat khas dara-dara perawan, sungguh memancar indah dihiasi sinar rembulan terpantul di riak-riak air.

Well, ini memang bukan kali pertama Cheska dan Sherry melihat organ genital Giztha. Sudah terhitung sekian kali tiga gadis perlambang kecantikan sekolah itu menjalani momen saling tanpa busana dan liar bersenang-senang bersama. Namun, tetap saja ketika acap salah satu dari mereka memulai ketelanjangan, ada gejolak perasaan luar biasa di dalam hati dua yang lain.

Plak plak plak

Giztha menepuk-nepuk pelan bukit kemaluannya

Vagina. Yups. Lubang memek. Inilah kekuatan kita sebagai perempuan yang paling dahsyat, Gals. Pembunuh kekuatan logika lelaki. Penekuk keteguhan hati pria.

Mendapati Sherry dan Cheska yang tampak mulai agak terprovokasi, Giztha pun perlahan beranjak melucuti bikini top hitamnya. Kedua tangannya melipat ke belakang. Usai simpulnya terlepas, ia lemparkan kain durjana itu tepat di muka Sherry.

Plok!

Pernah ada om-om bule nawarin bodi gue lima puluh ribu US Dollar. Demi Radit, gue tolak! Giztha berdesis, membusungkan buah dadanya. Payudara ranum dalam masa pertumbuhan, dengan puting dan areola mungil menegang seksi.

Sherry mencampakan bikini top Giztha ke belakang. Tipsy, keadaan gadis itu. Terbaca dari rona parasnya yang tebal memerah serta kelopak mata tenggelam sayu. Entah kapan Mantan Ratu Agung cheerleader DNS tersebut turut membebaskan tubuhnya, yang pasti, sontak mendarat nakal kain putih penutup dada serta kewanitaan miliknya di muka Giztha sebagai balasan.

Plok! Plok!

Sherry menegakkan tubuh. Anggun perlahan ia berdiri. Berlenggak manis mendekati Giztha. Ia balas perlihatkan segalanya. Bulatan gunduk susu yang lebih besar, tinggi badan yang lebih elok langsing semampai, serta daging vagina nan lebih tembem berhias bulu-bulu lebat halus teratur bak wanita seutuhnya.

Seperti biasa, bila Sherry sudah mempertontonkan kebugilannya, Cheska dan Giztha pun serasa dibuat seperti bocah. Giztha hanya terkekeh malu mengacungkan tanda V dengan jarinya. Kakinya bergoyang-goyang kecil memainkan air. Ekspresi tanpda dosa.

Gizthy Honey apa aku harus cerita lagi kalo memek perawan aku pernah ditawar satu milyar tiga tahun lalu? Gadis berbadan model itu mendesah, memposisikan dirinya duduk merapat di sebelah Giztha. Dan, aku juga sama kayak kamu. Aku lebih milih selaput dara aku dirobek ama Alvin. Love is everything, Honey. Ekspresi kebahagiaan dia priceless banget, waktu dia berhasil pecahin darah perawan aku. Walau sekarang uhm,

Sekarang gimana?

Sherry tersenyum. Ia memilih tak melanjutkan kata-katanya barusan. Sejenak, matanya menatap Giztha penuh hasrat. Dengan gerak hangat serta mengejutkan, direnggutnya kepala gadis itu lalu diciumnya hingga bibir mereka saling beradu. Napas keduanya berhembus berat. Akhirnya, tubuh mereka pun lemas terjatuh dengan lengan erat berangkulan. Di pinggir hot tub yang beralas bebatuan, mereka berlumatan. Tampak menari-nari liar lidah Giztha dan Sherry saling menyapu.

Brengsekhh, Cheskaah, Sherry meracau di sela-sela ciumannya. K-kamu kasih obat perangsanghh yahh di botol wine-nya yahh?! You c-crazy bi uuuuuhmp, ucapan Sherry terpotong, tertelan oleh serangan Giztha yang menggigit gemas bibirnya!

——– batas update terakhir —–

Ssssllrrp sssrrrppp hmmmh ahhh mmhh!

Hmmmp! Hmmmh ohhh fuckhh, slrrrp mmmph!

Beberapa detik mereka terperangkap dalam permainan hisap-menghisap, sebelum akhirnya Sherry mendorong Giztha pelan. Hhhh hhhh dasar perawan binal! Hihihih! kikiknya menyeka mulut yang belepotan ludah Si Mungil. Ga sabar, yahh, pengen cepet-cepet dientot Radithh hehhhh!

Giztha tunduk tersipu. Ditatapnya tonjolan puting payudara Sherry yang tegang mengacung manja. Bisa ia rasakan daging bibir kemaluannya berdenyut hebat mendengar pertanyaan itu. Apalagi, Sherry berkata sembari memainkan jari, mencolek-colek penuh goda celah liang vagina perawan miliknya. Jelas, aksi provokatif tersebut membuat sang Gadis kian berkhayal. Tak sabar ingin segera direnggut masa kekanakannya. Menjadi wanita dewasa seutuhnya yang paham betapa sedapnya digagahi lelaki.

Selapis bibir lembut meneguk anggur putih dari gelasnya. Suara buih-buih air terdengar merdu hiasi suasana malam. Masih bersandar santai di dalam hot tub-nya, aliran darah pun seketika melaju kencang panaskan gairah Cheska. Tanpa disadari oleh Sherry dan Giztha, ketara sang putri kesayangan Baskara Irzandi itu mulai menggelisah berat. Mungil tangan kirinya perlahan merayap, membebaskan kedua penutup kehormatannya. Sangatlah mudah. Hanya dengan satu tarikan tali, terlepas mengambanglah kain-kain seksi berwarna pink itu terapung di atas air.

Mmmh, udah lama gue gak ngerasain anggur memek lo, Sher! racau Cheska serak seraya bangkit menghampiri tubuh Sherry, menampilkan sekujur ketelanjangannya pada dunia. Well, tidak begitu luar biasa. Bukan suatu komposisi badan yang bisa disebut ideal oleh korporasi media dunia peradaban modern. Namun, bagi mata para lelaki dengan segala syahwat primitif-nya, lekukan-lekukan muda itu sungguhlah menggairahkan! Outlawfully sin! Loli stuff!

Perawakan Cheska memang sedikit lebih tinggi bila dibandingkan Giztha yang agak mungil. Namun, entah mengapa, ia lebih terlihat seperti anak kecil. Mungkin karena Giztha memiliki permukaan raga yang lebih montok. Bokong serta dada Giztha lebih berisi. Sedang Cheska, jelas terhampar seperti bocah perempuan tengah dalam masa pertumbuhan.

Melangkah anggun siswi terkaya SMU DNS itu melewati dua sahabatnya yang tengah bergelutan. Di atas sebuah meja kayu, diambilnya sebuah tas kecil berwarna pink dari sana. Ia buka resletingnya. Dan, keluarlah tiga buah benda super imut kesukaan Cheska. Mainan sehari-hari tiga bidadari Three Unicorns.

Cheska tersenyum binal. Tentu saja ia mengambil yang berwarna pink. Biru dan ungu ia lemparkan pada Sherry dan Giztha, yang langsung meraihnya dengan penuh deruan napsu.

Untuk Giztha yang siap dinodai, lets give our very glorious orgasm, Gals! Kalo perlu, ampe kencing-kencing satu ember! Hahahaha!

Angin malam berhembus pelan. Terasa dingin merindingkan kuduk. Seakan tak peduli ketiga dara belia itu berbugil ria dalam rendahnya suhu. Menggunakan rekatnya selotip, Cheska dan Giztha menempelkan alat getar-rangsang mereka pada ujung bukit kemaluan masing-masing. Sedangkan Sherry? Ah, tak usah ditanya. Sempit liang vaginanya yang telah terbiasa mengulek-ulek kejantanan besar Faruk tentu mampu menelan habis si telur kapsul bulat-bulat, hingga hanya tersisa untaian tali yang menjulur keluar dari selangkangnya.

Tak perlu dijelaskan lagi apa yang terjadi setelah itu. Cheska, Sherry, dan Giztha saling mendekat. Lincah anggun bergumulan layaknya peri-peri hutan di musim kawin. Raga-raga remaja mereka mengejang nikmat, seiring rangsang rabaan tangan serta gadget pemuas. Cekikikan-cekikikan nakal menyahut. Saling menggoda saling mendesah, hingga cipratan air pertanda cinta menyembur malu dari celah-celah kewanitaan mekar mereka. Betapa pemandangan yang sungguh indah. Fantasi para lelaki kilauan permata di mata kaum Adam.

Namun, bukanlah milik seorang pria sepasang mata yang kini lekat tertegun kaku mengamati pergulatan syahwat itu.

Ada alasan tertentu mengapa Cheska menyebut satu jendela di sudut kamar Astrid sebagai Jendela Terlarang. Ya, karena hanya dari jendela itulah pemandangan menajubkan tersebut bisa dilihat! Satu-satunya jendela di rumah besar ini, yang langsung menghadap ke area hot-tub berada di halaman belakang.

Astrid berdiri tegang di depan jendela. Dari balik tirai tersingkap kecil, ia perhatikan segala tingkah polah Trio Unicorns bercanda ria tanpa busana. Lekukan-lekukan tubuh, hamparan mulus kulit, serta bulatan-bulatan pantat nan seksi milik Cheska, Sherry dan Giztha dapat ia saksikan sejelas sinar rembulan.

Begitu ranum nan menawan.

Putih terpantul tak berdosa, bak kembang bermekaran rayakan keelokannya…

Dada Astrid berdegup kencang. Sekujur jiwanya merayap berontak.

Aku pun punya tubuh seanggun mereka Aku pun punya bibir kewanitaan secantik mereka.

PUK!!!

Tangan kanan gadis itu melayang, memukul kepalanya sendiri.

Ya Tuhan, apa yang aku pikirin?! I-i-ini nggak bener! M-mereka cabul! Mereka nakal!

Sepasang kaki mungil tampak berlari panik menuju kamar mandi. Masih terbayang-bayang di benak Astrid adegan aneh barusan ketika Cheska mengejang liar seraya menyemburkan air bening dari vaginanya.

Ada yang lain pada diri gadis kelahiran Praha tujuh belas tahun lalu itu. Hampir tiga tahun Astrid mengenal Cheska, entah mengapa, baru kali tadi ia merasa sang gadis terlihat begitu polos jelita.

———-

“Far… a-aku sayang banget ama kamu. A-ku pengen kita…,”

“….”

“Faruk… jadi pacar aku, ya? P-please… a-aku sayang banget ama kamu. A-aku…,”

“D-Dhira? Kamu…,”

Look at me .

Im as helpless as a kitten up a tree

And I feel like Im clinging to a cloud, I cant understand

I get misty

Just holding your hand.

Malam, diliputi cuaca sejuk serta awan sedikit menutupi bintang-bintang. Seorang gadis tampak berdiri lemah di depan jendela. Tak ada yang bisa ia lihat di luar sana, kecuali kehampaan dan rasa hina yang amat mendalam. Hawa dingin serentak menyelimuti kulit sekujur merebak. Waktu telah menunjukan pukul 19.30, dan Dhira belum juga beranjak pulang dari kediaman Faruk. Kamar Faruk, tempat dirinya hari ini menghabiskan waktu bersama sang lelaki pujaan selama sekian jam. Bercengkrama. Bercanda ria. Hingga, tentu saja, khilaf bersetubuh lepaskan peluh lampiaskan gairah.

Ah, kamar si kapten sepakbola nan gagah menyebalkan itu

Belum berubah semenjak aku pertama datang kemari

Sudah pasti tiap sudut kamar ini menyimpan banyak kenangan bagi Dhira. Di tempat inilah ia kehilangan selaput dara dan memulai kehidupannya sebagai gadis tak perawan. Dan, bukan hanya satu atau dua kali saja pencabulan itu terjadi. Bisa dibilang sering. Well, bayangkan saja, acap kali Dhira berkunjung ke rumah Faruk, selalu saja dirinya pulang dengan kondisi kemaluan pegal-pegal.

Lelah, tapi puas.

Jujur, Dhira memang doyan sekali lubang vaginanya ditusuk-tusuk kejantanan Faruk. Lelaki itu tak pernah gagal membuatnya menjerit lepas mengejat nikmat. Perempuan mana, sih, yang tak suka dibuat melayang? Namun, tetap saja, pada dasarnya Dhira bukanlah perempuan gampangan. Ia lahir dan tumbuh dari keluarga baik-baik plus terhormat. Dalam hati ia masih menentang keras perilaku seks bebas. Andai tak ada satu rasa ini di hati Dhira, sudah tentu siswi yang juga mantan ketua klub literatur DNS itu telah dari dulu menampar Faruk keras. Berteriak penuh amarah. Menelepon polisi, serta komnas perlindungan anak-perempuan.

Ya. Rasa itu adalah Cinta.

Faruk terlalu sempurna di mata Dhira. Sungguh tak tejelaskan mengapa dirinya begitu tergila-gila dengan lelaki ini. Cinta memang gila. Cinta memang liar. Setelah hatinya berhasil pemuda itu taklukan, syahwat kebetinaanya pun kini sukses tertundukkan. Tak bisa Dhira menahan lagi. Tak bisa dirinya berbohong lagi. Faruk-HARUS-menjadi-miliknya.

Dan, terjadilah kecelakaan kata-kata itu

Di tengah jeda istirahat sehabis satu persenggamaan panas barusan, terucaplah juga akhirnya ungkapan hati terlarang itu. Terlarang bagi wanita. Pertaruhan harga diri.
Ingin rasanya Dhira menangis. Ada segelintir buncahan sesal di dalam otaknya. Apa yang aku pikirkan? Bisa-bisanya aku menembak cowok? Kini, ia merasa begitu rendah dan murahan di muka Faruk. Setelah membran kegadisannya ia serahkan, pasrah seluruh tubuhnya terus dilecehkan, kini, rahasia hatinya pun ia preteli habis-habisan. Tiada lagi yang tersisa pada dirinya. Tidak ada.

Dhira terus membisu menatap langit malam di ruang penuh kesunyian itu. Samar-samar terpantul bayangan dirinya di hamparan kaca sana. Sama sekali ia hampir tak mengenakan apa-apa. Membugil polos, dengan hanya sehelai celana dalam putih menutupi area pangkal pahanya. Celana dalam yang dipakainya sejak pagi, yang telah ternoda oleh bercak-bercak carian napsu kewanitaan di bagian bawahya.

Ya Tuhan perempuan macam apa aku ini?

Mama papa maafin Dhira hukhukhuk.

Dhira,

Sang gadis tersentak. Tiba-tiba saja Faruk bangkit dari duduknya. Lelaki itu tegak perlahan melangkah tinggalkan ranjang. Juga tanpa busana. Faruk mendekat. Dan, Dhira lagi-lagi merasakan geli di bibir keintimannya.

Lagi-lagi, syahwat keperempuanan Dhira tergoda.

Maafin aku, Dhira. A-aku aku gak bermaksud ngebawa kamu sampe ke

Faruk, gapapa! Ini salah aku! Aku yang terus ngebohongin kamu. Perasaan aku sendiri! sergah Dhira memotong. Sebelah tangannya naik mengusap mata. Hampir saja si manis berbehel imut itu memulai isakkan tangisnya, sebelum seketika sebuah dekapan hangat menyelimuti dari belakang.

Faruk memeluknya. Dan, Dhira selalu menginginkan itu.

Faruk pun meremas lembut dekatkan wajahnya. Ia kecup kepala gadis itu. Rambutnya yang tebal acak-acakan pasca ia senggamai, masih tehirup wangi walau sekian waktu bermandikan keringat.

Maafin aku, Dhira. A-aku pikir, waktu kita buat kesepakatan cuma temen, just having fun dan ga pake hati itu

Aku bohong, Faruk!

Dhira sedikit meronta untuk kemudian berbalik menghadap sang Pangeran . Ia tenggelamkan wajah pucat-malunya di dada Faruk. Aku bohong…. Aku suka banget ama kamu…. Aku sayang baget ama kamu…. A-aku pengen kamu jadi pacar aku, Faruk,

.

K-kamu pasti benci banget ama aku, ya, Faruk. Nganggep aku rese dan m-murahan. A-aku udah lancang

Jemari Faruk bergerak lembut membelai rambut Dhira. Diselanya rengekan manja siswi yang juga merupakan sahabat dekat musuh-nya tersebut, Astrid. Dhira… bagi aku, sebenernya gapapa kok, kalo cewek yang nembak duluan. Gak apa-apa. Sedebu pun aku gak pernah nganggep kamu murahan…,

Dhira kembali merajuk. Tapi aku jelek. Aku ge

Tuh kan! Faruk menarik napas. Ia renggangkan cepat-cepat kehangatan pelukannya. Ia raih tangan kanan gadis itu lalu dibimbingnya ke bawah. Menuju selangkangan miliknya.

Coba pegang punya aku, Dhira. Gimana keliatannya? Tegang? Keras?

Dengan rona memerah, Dhira pun mengangguk. P-punya kamu besar banget, Faruk. K-kekar, ia berbisik.

Udah terbukti kan, kalo aku nganggep kamu seksi? Cantik. Menarik. Bikin horny?

Dhira tak menjawab. Alih-alih berikan petunjuk atau meng-iya, gadis itu malah meneruskan pijatannya pada batang kemaluan Faruk.

Dhira aku mau, kok, kalo kita pacaran, Faruk berbisik terdengar bak alunan merdu di telinga Dhira, Aku gak keberatan, kok, kamu iket seperti anjing pudel. Aku cuma khawatir aja, nama kamu justru jadi jelek gara-gara hubungan ini. Belum lagi Astrid, lanjutnya. Entah mengapa Faruk menganalogikan pacaran dengan diikat seperti anjing pudel. Mungkin, karena teringat hubungan Gerry dan Fanny.

Faruk, k-kamu ga usah maksain diri. Kamu g-ga usah kasian ama aku. I-ini semua gara-gara aku yang tolol! K-kalo kamu

Dhira, Lagi-lagi, Faruk menarik napas. Kodrat laki-laki emang mencari cinta. Tapi, ga ada salahnya juga, kan, kalo menyerah pada cinta?

Wajah Dhira kian tertunduk. Tak tahu apa lagi yang harus ia katakan. Suasana malam itu memang sungguh membingungkan. Muncul debar-debar rasa berjuta bahagia, namun, ada juga percikan aroma bersalah karena telah mengambil peran lelaki?

Ah, entahlah. Yang jelas, gadis itu merasa sangat bodoh telah besikap tak sabaran. Jaman memang telah berubah, tapi, tetep saja kejadian cewek nembak itu selalu menimbulkan suasana awkward. Ganjil. Aneh tak terkira.

Entah bakal bagaimana nantinya perjalanan cinta dirinya dengan Faruk. Lalu Astrid? Dhira sungguh tak mampu berpikir apa-apa lagi. Tak mampu. Yang ia inginkan saat ini adalah, terus memeluk Faruk. Layaknya anak kecil yang merasa bersalah telah melakukan sesuatu.

Mmmh besok kita maen bareng, yuk, Ra? Aku pengen ngobrol panjang lebar ama kamu. Sekarang, kamu harus pulang. ucap Faruk berusaha melepaskan dekapannya.

Dhira pun mengangguk lemah. Sejenak, ia putar arah lirik sepasang bola matanya menuju jendela. Mendadak saja langit menjadi cerah. Seperti berkelip manja taburan bintang-bintang menggoda sang Gadis.

Author: 

Related Posts

Comments are closed.