Cerita Sex Arimbi ( By : Siganteng_rusuh ) – Part 12

Cerita Sex Arimbi ( By : Siganteng_rusuh ) – Part 12by on.Cerita Sex Arimbi ( By : Siganteng_rusuh ) – Part 12Arimbi ( By : Siganteng_rusuh ) – Part 12 Para Sahabat Sejati ~~~oOo~~~ Cinta itu apa sih? Cinta hanya masalah nafsu, tentang urusan memiliki dan di miliki, sebatas mengakui dan di akui. Tapi apa yang Bimo dan Arimbi alami dan rasa tak sesimple masalah cinta itu sendiri. Mereka mengalami apa yang namanya Kontroversi hati. Antara […]

3_771 big tn_spoiledvirgins_127_fhg_3Arimbi ( By : Siganteng_rusuh ) – Part 12

Para Sahabat Sejati

~~~oOo~~~
Cinta itu apa sih?

Cinta hanya masalah nafsu, tentang urusan memiliki dan di miliki, sebatas mengakui dan di akui. Tapi apa yang Bimo dan Arimbi alami dan rasa tak sesimple masalah cinta itu sendiri. Mereka mengalami apa yang namanya Kontroversi hati.

Antara iya dan tidak. Antara dia dan dia. Antara bisa dan tidak bisa. Antara….

Jauh di dasar hati, sebenarnya mereka saling mencintai. Saling menyayangi lebih dari apapun di dunia ini. Tapi entah kenapa mereka berlomba-lomba untuk saling mengingkari.

Entahlah…

Yang Arimbi tau saat ini hanyalah bagaimana caranya bisa melupakan Bimo, apapun dan bagaimana-pun akan dia lakukan. Perlahan menjauh dan membunuh mati perasaan yang lambat laun semakin tumbuh subur sebelum terlambat nantinya.

Sakit sih… Tapi kalau di tunda-tunda bakal semakin bertambah sakit.

Sementara Bimo? Bilang Bimo pengecut karena hanya bisa diam Arimbi di rebut Aditya. Bilang Bimo banci karena tidak berani memperjuangkan perasaan-nya dan hanya bisa bercumbu dengan kesakitan-nya. Tapi menurut Bimo inilah perjuangan sesungguh-sungguhnya perjuangan.

Berjuang merelakan walau harus berkalang sakit dan perih. Apapun akan Bimo lakukan asal Arimbi bahagia, meski terpaksa harus merelakan Arimbi bersama Aditya. Seperti kata para pujangga dulu, ‘bahwa cinta tak selamanya harus memiliki.’ Mungkin.

Entah sampai kapan Bimo akan sanggup bertahan.

“Hoeh… Nglamun aja sih?” Tepuk Revan mengagetkan Bimo dari keasikannya menulis.

Menulis? Sekarang Bimo jadi sering menulis. Saat hatinya sakit, saat perasaanya perih, Bimo akan langsung menuangkan segala perasaan itu dalam bentuk tulisan. Dengan menulis-nya, rasa sakit itu akan terasa indah untuk di nikmati. Masa sih?

“Ah… Ngagetin aja sih!” Runtuk Bimo sambil buru-buru menutup buku tulisnya.

“Kemarin Wedus Bapak-ku kebanyakan ngelamun mati loh.” Lanjut Revan sambil kemudian menyusul duduk di samping Bimo.

“Sembiarangan aja!” Runtuk Bimo sambil menoyor kepala Revan. “Masa daku yang ganteng ini di samain ama kambing? Nggak sopan!” Lanjutnya dan kembali menoyor bolak-balik.

Dari luar Bimo masih terlihat biasa. Masih Bimo yang dulu. Masih seru masih rame dan masih… ehem… masih suombong. Tapi sebenarnya, jauh di relung hatinya ya puuuualing dalam, Bimo hancur berkeping-keping sampai lembut selembut lembutnya.

“Hehehe… Peace.” Sahut Revan merenges cengengesan dan sedikit merapikan rambut belah tengahnya. “Eh… Ini apaan?” Lanjutnya sambil sreeet… merebut buku Bimo.

Sigap Bimo berusaha mempertahankan bukunya, tapi terlambat. “Njier… Kampret! Sini balikin!” Sentaknya berusaha merebut kembali buku itu.

“Hais… Tidak bisaaa…” Revan berkelit lincah mempertahankan Buku itu. Bimo juga tidak menyerah terus berusaha merebut kembali bukunya. Dan akhirnya, terjadilah aksi kejar-kejaran seperti film-film India di dalam kelas.

“Aih… Mesranya.” Tiba-tiba terdengar suara Andri mengganggu kemesraan mereka. “Ajak-ajak apa klo mo maho. Biar kita bisa trisum sekalian.”

“Huanjriet!”

“Revan?!” Teriak Wanda sambil memasang wajah cemberut imut di ambang pintu kelas. “Kamu beneran maho ama Bimo?” Tanya-nya penasaran. Sumpah demi The Next JKT48, kalau Revan beneran maho… Hanya ada satu kata, Aaaaih… Keren bingitz…

“Kampret!”

Sementara itu di kantin sekolahan, Arimbi sedang asik duduk sendiri di kantin sambil menikmati segelas Nutrisari dan berselancar bersosmed ria. “Eh Rim…” Sapa Aditya sambil menyusul duduk di samping Arimbi. “Pulang sekolah kamu ada acara nggak?” Lanjutnya kemudian.

“Nggak ada.” Sahut Arimbi sambil menggeleng manis.

“Klo gitu ntar jalan dulu yuk?”

Sebentar Arimbi berfikir dan kemudian mengangguk setuju. “Mau jalan kemana emangnya?”

“Rahasia.” Sahut Aditya sambil perlahan beranjak berdiri. “Eh… Nggak mo pesen lagi?” Arimbi hanya menggeleng sambil tersenyum manis memamerkan sepasang gigi kelincinya.

oOo
“Van… Kampret ih!” Mati-matian Bimo berusaha merebut bukunya tapi gagal. Revan terlalu lincah berlari meloncat kesana-kemari menghindar seperti kodok. “Tabokin ni…” Ancam-nya semeremet kesal.

Nggak sopan! Buku itu adalah privasi. Di sana tertuang segala resah dan gelisah hatinya. Tentang perasaan hatinya kepada Arimbi. Dan bakal jadi bencana besar kalau Revan sampai membaca dan tau isi buku itu. Njier!

“Hi… Ngeri…” Sahut Revan malah meledek.

Originally Posted by Bimo Putro Prakoso

Kampret!

Rasanya baru kemarin kita bermain bersama, kemana-mana selalu berdua. Rasanya baru kemarin kita tidur bersama, kadang berantem menangis dan tertawa bersama. Rasanya baru kemarin, dan sekarang semua hilang hanya dalam sekejap mata.

Sambil terus menghindar, Revan mulai membaca tulisan Bimo di buku itu. “What?!” Kalimat tidur bareng itu sontak membuat Revan Andri dan Wanda melongo kaget. Dapuk dah ah ah ah ah…

“Se-serius Bim?” Selidik Wanda sambil menatap Bimo tajam.

“Mo tau aja sih.” Sahut Bimo berusaha mengelak sambil merengut kesal. Bodoh! Hancur sudah semuanya. Rahasia terbesar itu akhirnya terbongkar sudah. Mampus!

Originally Posted by Bimo Putro Prakoso

Kenapa?

Aku tau, rasa yang tumbuh semakin lama semakin menggila ini salah. Tak seharusnya rasa itu ada. Tapi apa daya, rasa itu datang dengan sendirinya tanpa pernah di minta. Dan aku hanya menyesali kerena terlalu bodoh dan terlambat menyadarinya.

Percuma. Tak ade gune lagi sekarang nak rebut buku tu, semue terbongkar sudeh. Akhirnya Bimo hanya bisa diam membiarkan Revan bebas membaca curahan isi hatinya. Membongkar segala rahasia-nya.

Originally Posted by Bimo Putro Prakoso

Bodoh!

Selama ini aku hanya menganggap-mu sebagai kuman. Pengganggu yang hanya bisa meribeti hariku. Selama ini aku juga menganggap-mu hanya sebagai ATM berjalan. Tempat untuk menyelamatkan masa mudaku yang perlu hura-hura.

“Njier… Sadis ente bro.” Komentar Andri sambil menggeleng dan berdecak heran.

“Cowok matre.” Tukas Wanda ketus.

Sulit di percaya. Bimo yang ganteng dengan tongkrongan paling keren sesekolahan atau bahkan sekabupaten ternyata hanyalah cowok matre. Cowok yang hobinya ngeretin cewek hanya untuk menyelamatkan masa mudanya yang katanya perlu jajan-jajan dan jalan-jalan. Terlalu.

Originally Posted by Bimo Putro Prakoso

Sekarang?

Saat kamu perlahan menjauh dan hampir menghilang, baru aku sadar betapa pentingnya kamu. Arimbi… Kamu adalah separuh nafasku. Arimbi… Kamu adalah detak jantungku. Arimbi… Kamu adalah warna-warni hidupku. Dan Arimbi… Kamu adalah segalanya bagiku.

“Sorry ya bro.” Ucap Revan sambil mengembalikan buku itu. Akhirnya semua terjawab sudah. Memang sedikit mengejutkan, tapi itu semakin menegaskan satu hal. Arimbi adalah milik Bimo, dan hanya seperti itu seharusnya.

“Puas?!” Sungut Bimo kesal sambil menoyor kepala Revan bolak-balik. Revan hanya diam pasrah di toyor brutal seperti itu. Sementara, biarlah Bimo puas menoyor kepalanya. Apapun Revan rela demi sahabat tercinta yang sedang menderita.

“Bro…” Andri perlahan mendekat dan menyusul duduk di samping Bimo. “Sorry ya bro.” Ujarnya kemudian sambil menepuk bahu Bimo.

“Sorry buat apaan?” Sahut Bimo sambil mendelik sedikit mengerutkan alis.

“Haisyah… Pokoknya sorry aja.”

“Yoi bro. Pokoknya apapun yang terjadi, loe loe gue selamanya tetep eloe eloe gue loe gue guean.” Sambung Revan sembari menunjuk dirinya sendiri Bimo dan Andri bergantian.

“Terus aku?” Sela Wanda turut menunjuk dirinya sendiri. Hampir keberadaan-nya di situ terlupakan.

“Hehe… Perlahan Revan menghampiri pacarnya itu. “Kalau loe cuma buat gue. Di kamar gue… Huaaaaahahahaha…” Sambungnya berlagak sok ber-loe gue-an. Najis!

oOo
Sepulang sekolah Aditya langsung membawa Arimbi ke suatu tempat. Satu jam bermotor menyusuri jalanan pegunungan yang berkelok berliku meliuk naik turun, mereka akhirnya sampai di tujuan. “Kita sampai.” Ujar Aditya sambil menghentikan motornya di pinggir hutan pinus.

Indah. Hamparan pemandangan pohon pinus yang berderet rapi begitu memanjakan mata. Udara sejuk pegunungan bercampur aroma pohon pinus dan cicit binatang hutan terasa menenangkan. Sempurna.

“Waow… Bagus banget.” Pekik Arimbi senang kemudian berlari kecil menuju sebuah saung yang tak jauh berada di sana.

“Iya… Aku sering ke sini kalau lagi pengen nyantai.” Setelah menyertandarkan motornya, perlahan Aditya menyusul Arimbi. “Kamu suka?” Ujarnya sambil kemudian duduk di saung itu.

“Sumpah… Aku suka banget.” Arimbi merentangkan tangan selebar-lebarnya dan berputar-putar riang. Kepalanya tengadah sambil menghirup udara dalam-dalam. Tingkahnya tak ubahnya seperti peri kecil yang sedang lincah menari.

Cret… Cret… Cret…

Tanpa Arimbi sadari, Aditya mengabadikan momen indah itu dengan kamera DSLR yang sudah di persiapkannya. Berbagai gaya Arimbi sukses terekam sempurna. “Cantik.” Batin Aditya mengagumi hasil jepretannya.

“Eh… Kok foto gak bilang-bilang sih.” Runtuk Arimbi manyun sambil menghampiri Aditya. “Pasti jelek ya?”

Aditya tersenyum dan kemudian menyodorkan kameranya. “Bagus kok… Sempurna.” Jawabnya.

“Hehehe…” Arimbi terkekeh malu-malu melihat hasil foto dirinya. Cantik. Dalam berbagai gaya yang tak di sengaja, dari berbagai angle bidikan, hanya ada satu kata yang tepat untuknya. Sempurna. Keindahan Alam dan kecantikan paras-nya seakan menyatu sempurna seirama.

“Eh…. Kamu suka fotografi Dit?” Tanya-nya kemudian dan mengembalikan kamera Aditya.

“Nggak suka-suka banget sih, cuma klo pas ada momen sempurna aja. Seperti sekarang ini contohnya.” Sahut Aditya sambil menatap mata Arimbi. Hening. Suasana tiba-tiba mendadak sepi, hanya desir angin cicit burung dan suara binatang hutan yang sayup terdengar. “Rim…” Aditya perlahan meraih dan menggenggam jemari Arimbi.

Dug dug dug dug dug…

Seketika dada Arimbi dag dig dug sendiri tak terkendali. “Iya?” Perlahan Arimbi menunduk salah tingkah sembari memelintiri ujung kain seragamnya.

“Kamu mau nggak jadi pacar aku?”

What?! Arimbi tau ini pasti terjadi. Tapi tetap saja matanya sontak membelalak mendengarnya. Di tembak cowok, pew pew… Dan ini pengalaman pertama seumur hidupnya. Tak pernah terbayangkan kalau akan secepat ini.

~~~oOo~~~
Pagi masih terlalu pagi. Matahari baru semburat memerah di ufuk timur. Embun dan kabut pagi-pun masih enggan untuk beranjak pergi. Tapi sepagi itu, Revan dan Wanda sudah sampai di rumah Septi.

“Kamu serius Van?” Sahut Andri sambil menatap sahabatnya itu. “Edian.”

Revan memang edian. Datang sepagi ini, mengganggu kemesraan pasangan pengantin baru yang seharusnya masih asik beruhui ria hanya untuk membahas itu. Membahas kelanjutan rencana konyolnya yang belum sempat terealisasi.

“Ya serius lah.” Jawab Revan yakin.

Sebentar Andri mengerutkan dahi berfikir dan kemudian menatap Septi dan Wanda bergantian. “Menurut Ibu-Ibu gimana?”

“Ya terserah Bapak-Bapak lah.” Sahut Wanda sambil melirik ke arah Septi. “Ya nggak Sep?”

Septi hanya menjawab mengangguk pelan.

Deal!

Walau sedikit ada perubahan, rencana tetap di lanjutkan. Kalau kemarin mereka merancang rencana untuk mengorek rahasia hubungan sebenarnya antara Bimo dan Arimbi, tapi sekarang rencana itu berubah menjadi misi menyatukan kembali Bimo dan Arimbi. Saatnya sahabat sejati beraksi.

“Terus eksekusinya kapan ini?” Tanya Andri.

“Sekarang aja gimana?” Sahut Revan bersemangat. Jangankan menyatukan lagi Bimo dan Arimbi yang notabene-nya sahabat-nya, di suruh menghajar Aditya seperti waktu itu dia juga pasti bersemangat.

Ya iyalah… Orang waktu itu nggak ada yang nyuruh aja semangat kok.

Semangat dan emosi Revan yang tiba-tiba waktu itu sempat membuat Wanda kaget keheranan. Tapi akhirnya Wanda bisa memaklumi karena memang seperti itulah pacarnya. Manusia labil emosi tapi berjiwa sahabat sejati.

“Sekaaarang?” Kompak Andri Septi dan Wanda saling berpandangan heran. Sekarang, dan itu berarti mereka harus bolos sekolah. Yang benar saja? Kan sebentar lagi mereka akan ujian akhir. Terlalu bodoh kalau harus bolos sekarang ini.

Kan nggak lucu kalau sampai nggak lulus karena bolos sibuk ngurusin percintaan kampret Bimo dan Arimbi. “Enggak ah… Masa bolos.” Protes Wanda.

“Iya Van… Masa bolos sih? Gimana kalau ntar siang aja, sepulang sekolah.” Sambung Septi memberi solusi.

Setelah berfikir sebentar, akhirnya Revan mengangguk setuju dengan usulan Septi. Sepulang sekolah, dan sepertinya itu bukan ide yang buruk. “Okelah kalau begitu. Ntar kamu yang atur Arimbi ya Nda?”

“Iya.” Sahut Wanda mengangguk.

oOo
Sementara itu di rumah Bimo. “Buk… Kunci mio mana?” Tanya Bimo sambil mencium tangan Ibu-nya.

Bu Sriati sedikit mengerutkan alis bingung. “Buat apa?”

“Ya mau di pakeklah Buk.”

“Tumben.”

“Yaelaah… Mana ih.”

“Tu… Di atas kulkas.” Bu Sriati kemudian menunjuk ke arah kulkas di pojokan dapur.

“Tengkiu…”

Bimo langsung berlari dan menyambar kunci motor di atas kulkas. Sudah terlalu lama motor culun najis tralala trilili itu di terlantarkan. Semenjak Bimo punya motor Super-Sport impian terbesar seumur hidup, si Mio jablay itu praktis tak pernah di sentuh lagi.

Motor matic kelir putih yang teronggok ngenes di pojokan garasi itu terlihat begitu merana berdebu. “Hai sayang… Apa kabar?” Batin Bimo sambil mengusap jok motor itu dan kemudian mengelap alakadar-nya.

Hari ini Bimo sudah membulatkan tekad kembali memakai motor itu. Percuma memakai R6 tanpa ada Arimbi nangkring cantik di boncengannya. Selain itu, terlalu berat biaya Pertamax R6. Tanpa bantuan Arimbi, uang sakunya tidak akan cukup untuk membiayai motor itu. Masa bodo dengan kesombongannya dulu.

Bruuuuot…

Selesai mengelap alakadarnya, tanpa memanasi lebih dulu, Bimo langsung meluncur dengan motor itu berangkat ke sekolah. Setelah sekian lama, rasanya sedikit aneh mengendarai motor itu. Enteng kecil dan jauh dari kesan keren seperti saat dia mengendarai R6.

Sesampainya di sekolahan. “Huanjriet! Motor banci di pakek lagi.” Ledek Revan begitu melihat Bimo dengan Mio lawasnya di parkiran.

“Huaaaahahaha…” Andri yang terus menggandeng lengan istrinya juga tidak bisa menahan tawa melihat betapa culunnya Bimo mengendarai motor itu. “Lelaki sejati tu oper gigi bro… Bukan badan tegak kaki ngempit.” Sambungnya ikut meledek.

“Kenaaaapa?”

“Hf…” Jawaban polos Bimo itu otomatis memancing senyum sahabat-sahabatnya. “Sabar ya bro.” Ujar Revan sambil menepuk bahu Bimo. “Ngenes sih ngenes… Tapi ya nggak usah segitunya juga kaleee…”

“Udah ah… Ke kelas yuk.” Putus Septi. “Bimo jangan di ledekin terus, kasian.”

Njier! Semengenaskan itukah Bimo sampai perlu di kasihani? Tapi nyatanya memang seperti itu. Tanpa Arimbi, Bimo terlihat mengenaskan dan perlu di kasihani. Tanpa Arimbi, Bimo seperti… Ah sudahlah, kacau pokoknya.

Cowok macam apa coba yang hanya berani beruneg-uneg di kertas? Kasian kasian kasian…!

~~~oOo~~~
Walau sedikit susah dan harus berputar-putar beralasan ini itu, Wanda akhirnya berhasil juga melaksanakannya tugasnya, mengurus Arimbi. Dan sepulang sekolah, akhirnya di sinilah mereka berenam berada, di rumah Septi.

“Monggo… Silahkan shit down.” Ujar Andri mempersilahkan.

“Matur tengkyu.” Jawab Revan melucu garing.

“Aligator gozaiasu.” Sambung Bimo ikutan sok melucu yang sama sekali tidam lucu.

“Sepi Sep? Bapak Ibuk-mu kemana?” Tanya Arimbi sambil memutar pandangannya ke sekeliling. Interior rumah klasik bergaya belanda itu terlihat sederhana tapi terasa begitu nyaman.

“Ya biasa, ngajar.” Jawab Septi.

“Jam segini?”

Septi mengangguk. “Kan mereka ngajarnya di dua tempat. Klo siang begini pindah ngajar di Bimbel.”

“Pantes mereka sempat-sempatnya mesum di sini. Lha rumahnya sepi terus.” Batin Arimbi sambil mengangguk-angguk faham.

“Ssst…” Revan menyikut lengan Andri dan memberi isyarat mata. “Numpang kamar mandi ya Sep?” Pamitnya kemudian sambil beranjak berdiri.

“Ya udah sana.”

“Awas… Jangan nyabun.” Celetuk Bimo.

“Hasemik… Emang akika jones apa versusnya sabun.”

Tak berapa lama kemudian. “Eh… Ayo bikin minum dulu Sep.” Ajak Andri sambil beranjak menggandeng Septi ke dapur. “Eh bentar ya.” Dan akhirnya Wanda juga beranjak pergi meninggalkan Bimo dan Arimbi berdua di ruang tamu.

Sepeninggal mereka, sekarang hanya tinggal menyisakan Bimo dan Arimbi berdua di ruang tamu. Sepi, suasana langsung mendadak canggung. Bimo dan Arimbi saling diam, bingung harus bagaimana dan ngapain.

Untuk mengusir canggung, Arimbi memilih bermain handphone mengupdate status atau sekedar membalas komen dan mention yang masuk. Sepasang jempol-nya begitu lincah bermain di atas layar handphone-nya.

@QueenArimbi

Canggung mampus. #Gila

Sementara itu di dapur, Septi dan Wanda sedang sibuk membuat minuman untuk mereka. “Serius ini Van?” Tanya Andri sambil sesekali mengintip ke arah ruang tamu.

“Serius lah… Udah nyampek sini masa mundur sih?”

“Emang nggak keterlaluan ini Van?” Tanya Septi. Walau sudah di rencanakan matang, tapi ragu masih juga menyerang. Salah benar masih menjadi pertimbangan. Walau mereka bersahabat, tapi ini adalah masalah hati. Dan siapapun dia, bahkan sahabat sekalipun tidak berhak ikut mencampuri.

“Keterlaluan atau enggaknya, biar sejarah yang menilai.” Sahut Revan berlagak sok berfilosopi seperti pujangga mesum. Dapuk!

“Ya udah… Ntar kamu yang mulai ya Van.” Sambung Wanda.

“Wuoke… Tapi ya kalian jangan cuma diem doang. Kita mainnya keroyokan.”

“Iyaaaa…” Jawab Wanda Andri dan Septi kompak. Saatnya para sahabat sejati beraksi. Tempat Arimbi hanya di samping Bimo. Dari dulu begitu dan selamanya harus tetap seperti itu. Bersemangat!

oOo
“Iya hallo…”

“—”

“Dimana?”

“—”

“Lama?”

“—”

“Ngapain?”

“—”

“Oooo ya udah.”

“—”

“Boleh?”

“—”

“Oke.”

“—”

“Bye…”

~~~oOo~~~

Bersambung

Author: 

Related Posts

Comments are closed.