Cerita Sex Pendekar Naga Mas – Part 8

Cerita Sex Pendekar Naga Mas – Part 8by on.Cerita Sex Pendekar Naga Mas – Part 8Pendekar Naga Mas – Part 8 Tenaga sakti menggetarkan jagad. Pesanggrahan Hay-thian-it-si (samudra dan langit satu pandangan) adalah tempat tinggal Ong Sam-kongcu, Lelaki paling ganteng di jagad saat itu. Suasana pesanggrahan yang selalu diliputi kegembiraan, suasana yang biasanya dipenuhi bocah yang bercanda sambil bermain kejar-kejaran, hari ini justru diliputi awan mendung yang gelap. Semua orang […]

btnmx1FdL3bQNS6WwijN cjKQNeuLRKPendekar Naga Mas – Part 8

Tenaga sakti menggetarkan jagad.

Pesanggrahan Hay-thian-it-si (samudra dan langit satu pandangan) adalah tempat tinggal Ong Sam-kongcu, Lelaki paling ganteng di jagad saat itu.

Suasana pesanggrahan yang selalu diliputi kegembiraan, suasana yang biasanya dipenuhi bocah yang bercanda sambil bermain kejar-kejaran, hari ini justru diliputi awan mendung yang gelap.

Semua orang merasa sedih, semua orang merasa berduka.
Bahkan si Raja hewan Oh It-siau yang sudah terhitung kelas ‘kakek’ pun tak dapat menahan rasa pedihnya, ia berdiri di depan pintu dengan air mata bercucuran.

Semua orang merasa sedih karena seorang bocah yang baru berusia tiga belas tahun, Ong Bu-cau tak mampu mengendalikan semburan air maninya setelah melakukan hubungan badan untuk pertama kalinya.

Sebagaimana diketahui, setelah jalan darah kaku di tubuh Cau-ji ditotok oleh ibunya, semburan air mani pun segera menyembur keluar dengan derasnya membasahi seluruh liang senggama Jin-ji.

Semenjak diurut oleh Cau-ji, sebetulnya Jin-ji sudah merasakan badannya sangat enteng bagaikan melayang di udara.

Maka begitu liang senggamanya disembur berulang kali oleh cairan mani yang panas, gadis itu segera menggigil keras dan diiringi jeritan nikmat dia pun mencapai orgasme.

Waktu itu kebetulan Cau-ji sedang berbaring di samping tubuhnya, dalam keadaan masih bernapsu, gadis itupun segera mencium bibir Cau-ji dengan bernapsu kuat.

Ciuman itu akhirnya berhasil menarik nyawa Cau-ji keluar dari pintu neraka.

Sebetulnya kesadaran Cau-ji waktu itu sudah mulai menghilang, semburan mani yang bertubi-tubi membuat badannya mengejang keras, lambat-laun dia menjadi lemas dan nyaris tak bertenaga.

Maka ketika bibir Jin-ji yang panas mencium bibirnya, bocah itu tersentak kaget.

Dia segera merasakan lidah mungil gadis itu seolah-oleh sebiji buah yang berlapis madu, selain manis juga amat segar, tak tahan lagi dia pun menghisap ujung lidah itu dengan kuat.

Perlu diketahui, air mani Cau-ji yang menyembur keluar berulang kali itu sebenarnya mengandung inti kekuatan pil naga sakti yang pernah ditelannya, oleh sebab itu hawa murni yang kuat itu langsung menerjang ke dalam Tan-tian Jin-ji.

Begitu Cau-ji mulai menghisap ujung lidahnya, maka hawa murni yang semula mengalir keluar dengan derasnya ke dalam tubuh Jin-ji, seketika terhisap kembali ke atas, menembus semua hambatan di tubuh si nona dan balik kembali ke tubuh Cau-ji.

Begitu hawa Im bertemu dengan hawa Yang, kehidupan pun berjalan kembali dengan normal.

Dua orang itu saling berpelukan kencang, tubuh mereka tak bergerak lagi.
Ketika Go Hoa-ti melihat tubuh Cau-ji sudah tidak bergetar lagi, dia tahu semburan mani bocah itu sudah berhenti, maka setelah menutup tubuh mereka berdua dengan selimut, dia pun berjalan keluar meninggalkan ruangan.

Dalam waktu singkat Cau-ji dan Jin-ji sudah tertidur dengan nyenyaknya.

Mendekati tengah hari, mendadak dari dalam ruangan berkumandang suara letupan yang sangat aneh.

Cau-ji segera terbangun dari tidurnya, baru saja dia ingin memeriksa suara aneh apa yang berbunyi dari bagian bawah tubuh enci Jin, tiba-tiba berkumandang lagi suara letupan yang keras.

Menyusul suara letupan itu, dia lihat tubuh enci Jin gemetar sangat keras.

Segera dia melompat bangun dan berguling ke bawah ranjang.

Tampak tubuh Ong Bu-jin gemetar sangat keras, suara aneh itu ternyata berasal dari bagian dalam nona itu, satu kejadian yang membuatnya tertegun.

Kenapa bisa muncul kejadian seperti ini?

Ong Bu-jin sendiri pun ketakutan setengah mati, semula dia menyangka suara itu berasal dari kentutnya, tapi setelah diamati lagi, ternyata dugaannya keliru, suara itu bukan suara kentut, malahan badannya seperti kemasukan udara yang besar, bagai balon yang dipompa, badannya membengkak makin besar.

Beberapa saat kemudian suara aneh itu baru berhenti.
Tiba-tiba Cau-ji merasa enci Jin seperti tumbuh lebih tinggi, yang lebih aneh lagi adalah bagian dadanya, mendadak dia merasa sepasang payudara gadis itu seolah tumbuh makin besar dan montok, ia lihat ada dua gumpalan daging besar dengan puting susu berwarna merah terbentang di hadapannya.

Terdorong rasa ingin tahu yang luar biasa, bocah itu segera meraba dan meremasnya …. Haah, ternyata empuk, halus dan enak sekali untuk dipegang dan diraba.

Makin diraba Cau-ji merasa makin nikmat, maka dengan kedua belah tangannya ia mulai meremas payudara nona itu.

Lama kelamaan Ong Bu-jin merasa kegelian, makin diremas ia merasa semakin geli, akhirnya dengan wajah bersemu merah bisiknya, “Adik Cau, jangan begitu!”

“Enci Jin, kenapa kau punya dua gumpal daging besar?”

Tentu saja Ong Bu-jin kebingungan untuk menjawab, serunya kemudian,
“Aku sendiri juga tidak tahu!”
“Enci Jin, jangan-jangan karena pergumulan kita semalam, kau kena kuhantam hingga terluka dan membengkak besar, biar aku tanyakan kepada ibu!”

Ong Bu-jin menjadi malu bercampur terkejut, Segera dia bangkit untuk menarik tangannya.

“Aduh!” tiba-tiba gadis itu menjerit keras, ia merasa tubuh bagian bawahnya selain sakit juga amat pedih.

Cepat Cau-ji menyingkap selimutnya dan memeriksa bagian bawah gadis itu, ia lihat ceceran darah membasahi seprei.

Dalam terkejut bercampur paniknya ia segera menjerit keras, “Ayah! Ibu!

Kalian cepat kemari! Enci Jin dia….”
Tapi dia tak bisa melanjutkan perkataannya lagi karena mulutnya keburu dibungkam oleh tangan Ong Bu-jin.

“Adik Cau,” bisiknya lirih, “kau jangan sok panik begitu, ayo cepat bersembunyi di sini, masa kau ingin bertemu orang dalam keadaan bugil?”

Baru saja Cau-ji akan bersembunyi di balik selimut, tiba-tiba terdengar Si Ciu Ing berseru kaget, “Ooh Thian! Cau-ji, ternyata kau belum mati! Aku … uuh … uhhh … uuuh….”

Saking kaget bercampur girangnya ia segera menangis tersedu-sedu.

Semua orang dewasa yang berdatangan pun serentak menjerit kaget setelah menyaksikan Cau-ji duduk di ranjang dalam keadaan segar bugar.

“Ooh, Thian!”

Dua puluh empat orang pasukan bocah yang mendadak melihat engkoh Cau tumbuh menjadi dewasa pun ikut menjerit kaget.

Dengan penuh rasa gembira si Raja hewan menyeka air matanya, melihat Jinji masih bersembunyi di balik selimut, ia segera mengerti apa yang terjadi, segera teriaknya,
“Sobat-sobat kecil, mari kita pergi bersantap!”

“Aaah, nanti saja! Kami masih ingin bercakap-cakap dengan engkoh Cau!” tampik mereka.

“Siau-jiang, ayo makan dulu,” seru Pek Lan-hoa cepat, “selesai berpakaian engkoh Cau pasti akan menyusul kalian untuk makan bersama, setuju?”

“Setuju!”

Raja hewan yang ditarik dan didorong kawanan pasukan bocah itu menjadi kegirangan setengah mati, kini ia bisa tertawa terbahak-bahak.

Pek Lan-hoa balik ke kamarnya dan mengambil satu stel pakaian putih milik Ong Sam-kongcu.

“Aaah, benar!” tiba-tiba Cau-ji berteriak keras, “tadi telah terjadi satu peristiwa yang sangat aneh, enci Jin, dia….”
“Jangan cerewet!” teriak Ong Bu-jin tersipu-sipu.

Seakan mendapat perintah kaisar, Cau-ji segera tutup mulutnya rapat-rapat.
Meski begitu tangannya tetap membuat gerakan melengkung di depan dada sendiri sembari menjulurkan lidahnya.

“Adik Cau, apa yang kau lakukan?” jerit Ong Bu-jin.

Kembali Cau-ji menjulurkan lidahnya, ia melompat turun dari ranjang dan segera mengenakan baju berwarna putih itu.

Ketika semua orang melihat ketajaman pendengaran Ong Bu-jin yang sangat hebat, diam-diam semua tertegun dibuatnya.

Sementara itu Cau-ji sudah berseru dengan gembira, “Ooh, sangat menarik, enci Jin, cepat berpakaian!”

“Cau-ji, mari kita pergi makan dulu!” ajak Ong Sam-kongcu, sambil berkata dia menjura kepada Bwe Si-jin dan mempersilakan tamunya berjalan lebih dulu.

Menanti ketiga orang itu keluar dari kamar, Go Hoa-ti baru mengambilkan pakaian untuk Jin-ji, ujarnya sambil tertawa, “Jin-ji, semua orang sudah pergi, cepat bangun dan berpakaian!”

Terbayang kembali sepasang payudaranya yang berubah menjadi bulat besar, Ong Bu-jin merasa malu sekali, bisiknya lirih, “Ibu, tolong ambilkan pakaian, akan kukenakan di dalam selimut!”

“Aaai, apa sih yang kau jadikan malu?”

Siapa tahu baru saja pakaian itu dikenakan setengah jalan, Ong Bu-jin kembali berseru cemas, “Ibu, tolong pinjam pakaian milikmu!”

Sambil berkata ia lepaskan kembali pakaiannya yang kelewat sempit.

Semua orang yang berada di situ menjadi tertegun dan saling berpandangan dengan keheranan, hanya Go Hoa-ti seorang yang segera mengerti apa yang terjadi, sambil tersenyum ia mengambil satu stel pakaian miliknya dan diantar ke balik selimut.

Tak selang berapa saat kemudian selimut sudah disingkap, Ong Bu-jin dengan wajah tersipu-sipu turun dari pembaringan.

“Woouw, cantiknya!” para bocah perempuan itu menjerit tertahan.

Go Hoa-ti pun sangat gembira, sambil menyisir rambutnya yang kusut ia bertanya, “Jin-ji, kenapa secara tiba-tiba kau bisa tumbuh tinggi, malah jauh lebih tinggi dari ibu!”

Ong Bu-jin merasa girang bercampur malu, dengan suara lirih bagai suara nyamuk bisiknya, “Ibu, aku sendiri pun tidak tahu, aku hanya tahu selesai ‘begituan’ dengan adik Cau, mendadak tubuhku tumbuh jadi besar dan dewasa.”

Waktu itu Si Ciu-ing boleh dibilang ‘mertua memandang menantu, makin dipandang semakin jitu’, sambil membantu membetulkan letak pakaian gadis itu, tanyanya pula, “Jin-ji, anak Cau tidak nakal padamu bukan?”

“Tidak,” sahut Ong Bu-jin malu, “cuma badanku sekarang terasa canggung, kurang nyaman!”

“Kalau bagian ‘itu’ yang sakit sih kau tak perlu kuatir, sebentar juga bakal sembuh,” bisik Si Ciu-ing sambil menarik tangannya, “ayo, kita makan bersama.”

“Enci Ing, kelihatannya kau akan semakin menyayangi anak Jin,” seru Go Hoa-ti menggoda, “waah, kelihatannya aku mesti gigit jari.”

Gelak tertawa pun bergema memenuhi ruangan.

“Kalau tidak sayang menantu sendiri, lantas harus sayang siapa?” sahut Si Ciu-ing sambil tertawa pula.

Ong Bu-jin sama sekali tidak tahu kalau dia mempunyai ayah lain, perkiraannya semula, adik Cau berbuat ‘begituan’ bersamanya tak lain karena hendak menyembuhkan luka yang sedang diderita, tak heran kalau dia menjadi tertegun setelah mendengar perkataan itu.

Memangnya satu ayah lain ibu boleh menikah?

Go Hoa-ti bukan orang bodoh, ia segera dapat menangkap jalan pikiran putrinya, sambil tersenyum ujarnya, “Jin-ji, mari kita bersantap dulu, selesai bersantap tentu ada banyak cerita menarik yang akan kau dengar!”

Ketika seorang gadis berbaju putih bak bidadari yang turun dari kahyangan berjalan masuk ke ruang utama, beberapa orang lelaki dewasa yang ada di situ pun serentak memuji, “Ooh, cantiknya!”

Oleh karena itu secara diam-diam Cau-ji telah mengabarkan bahwa Ong Bu-jin telah tumbuh setinggi dirinya kepada para bocah lelaki, tak heran begitu melihat gadis itu melangkah masuk ke dalam ruangan, tempik-sorak segera bergema gegap gempita.

Bwe Si-jin yang melihat putri kesayangannya tumbuh begitu cantik dan anggun pun ikut merasa gembira, ia tertawa tiada hentinya.

Ong Bu-jin duduk satu meja dengan kawanan gadis lainnya, dia menjadi malu sampai tak bisa bicara ketika rekan-rekannya sembari meraba dadanya yang menonjol besar, bertanya ini itu tiada habisnya.

Melihat itu, sambil menarik wajah Cau-ji segera menegur, “Eei, jangan berisik, biar enci Jin bersantap dulu!”

Kawanan gadis itu tak berani ribut lagi, serentak mereka pun mulai bersantap.

Author: 

Related Posts

Comments are closed.