Cerita Sex Hope ketika hari beranjak siang – Part 12

Cerita Sex Hope ketika hari beranjak siang – Part 12by on.Cerita Sex Hope ketika hari beranjak siang – Part 12Hope – Part 12 Hope BAB 8 – Part 2 Tomi dan Sandi terbangun dari tidurnya ketika hari beranjak siang. Naya segera menyodorkan pakis rebus kearah Tomi. Pakis itu segera dilahap oleh Tomi. “masi ngantuk gak?” tanya Aryo. “ngak begitu kok……. udah mendingan daripada tadi..” jawab Tomi. “good…. kalo gitu kita selesaiin hari ini juga….” […]

Hope – Part 12

Hope
BAB 8 – Part 2

Tomi dan Sandi terbangun dari tidurnya ketika hari beranjak siang.
Naya segera menyodorkan pakis rebus kearah Tomi. Pakis itu segera dilahap oleh Tomi.

“masi ngantuk gak?” tanya Aryo.
“ngak begitu kok……. udah mendingan daripada tadi..” jawab Tomi.
“good…. kalo gitu kita selesaiin hari ini juga….” Aryo yang telah menyelesaikan makannya segera bangkit.

Tomi segera melanjutkan makannya, sementara Aryo dan Rangga sudah kembali disibukkan oleh ‘ritual’ menghujamkan bambu ketanah.
“pada ngapain si?” tanya Sandi.
“ngelubangin bambu supaya bisa dibuat pipa……” jawab Tomi.
“wew….. kenapa ngak dari kemaren-kemaren??”
“kalian ngak nanya….. lagian gue masi seneng mandi disungai….” kata Tomi.
“jadi itu ide lu? Kereeennn…” Sandi mengacungkan jari jempolnya kearah Tomi.
“alah ngak juga…..”
“ngak perlu merendah gitu…… kalo gak ada lo, mungkin semua orang disini udah makan pakis mentah………” kata Erik seraya kembali melahap makanannya.

Apa yang dikatakan Erik memang sepenuhnya benar, namun Tomi tetap tak ingin menyombongkan diri. Mereka segera menghabiskan makanan mereka dan membantu Aryo dan Rangga yang sudah disibukkan dengan pekerjaan mereka.

“ini yang terakhir….. semangatttttt………..” kata Aryo.
Puluhan batang bambu sudah ditumpuk rapi. Dengan bambu sebanyak itu, mereka yakin dapat mencapai air terjun untuk mengalirkan air.

“kraakk……”
Sebuah hantaman kuat menyebabkan ruas bambu itu kembali pecah.

“lagii…………….aaarrgh….”
“DUGG…….KRAAAAKK….”
Lubang terakhir telah berhasil dibuat. Kelima lelaki itu bersorak-sorai merayakan keberhasilan mereka.

“udah pada capek blom?” tanya Aryo.
“dikit……….. baru pemanasan…” kata Tomi.
“gile lu ndro…… badan udah lepek gini masi pemanasan….” Sandi memprotes.
“kalo masih kuat, kita cepet nyusun bambunya nih….. enggg..oh iya… nyambunginnya gimana tom?” tanya Aryo.
“halah…. ya tinggal disambung aja, kulit bambunya di buang dulu biar nempelnya kuat… ujung bambu yang kecil dimasukin ke pangkal bambu yang gede…. simple…”jawab Tomi.
“ohhh…. trus di samping bambu-bambu itu nanti di tahan pake batu gitu ya?” tanya Erik
“bisa……. tapi lebih bagus kalo bambunya bisa ditanem ditanah, biar gak goyang-goyang…..” Tomi menambahkan penjelasannya.
“okeeee……… semangat….. kita selesaiin hari ini juga…” Sandi berseru.

“nah…. oke ladies……….. sekarang tolong buatin tirai buat nutupin kamar mandi….. cowo-cowo mau nyelesaiin kerjaan ini sebelum sore…..” Aryo menoleh kearah para perempuan.
“oke…. disini serahin aja sama kita…. kalian fokus aja…” kata Indah.
Gadis itu mendekatkan dirinya kepada Aryo dan mengecup mesra bibirnya.

“hati-hati ya sayang…….” Indah berkata dengan manja.
“iya…. kalian disini juga waspada ya….. Erik sama Rafi, kalian jaga disini…. gue percayain semua anggota yang lain sama kalian…..” kata Aryo.
“oke….. kalian hati-hati guys….. tetap waspada oke…” kata Erik.

Satu persatu bambu itu segera mereka bawa.
Rangga dan Aryo bertugas menggali tanah dengan dua batang besi yang mereka gunakan melubangi bambu, sementara Tomi dan Sandi kebagian tugas untuk mengangkut dan memasang bambu-bambu itu didalam lubang galian yang sudah dibuat.

~***~
Waktu berlalu, hari sudah mulai beranjak sore.
Dua jam sudah mereka bekerja merangkai bambu-bambu itu sampai keair terjun. Mereka harus mencari permukaan air yang lebih tinggi agar air dapat mengalir kearah pemukiman mereka.
Beberapa kali mereka disulitkan oleh batu yang menghalangi jalan, namun berkat kerjasama tim yang kompak, mereka mampu melalui rintangan itu.

“sepuluh meter lagi guys…. ayo semangat… udah mau sore nih…” Aryo berseru memberi semangat kepada rekannya.
“huffffff………. tenang bro…. masih kuat kok….” Tomi menimpali.
“Erik sama Rafi juga udah selesai bikin kamar mandi kayaknya….” kata Sandi.
“serius? Kaya apa bentuknya?” tanya Aryo.
“gak jauh beda sama pondok… cuma lebih kecil aja…..”

“bruk…..”
Bambu terakhir mereka jatuhkan. Salah satu ujungnya kini tercelup kedalam air sungai.
Air telah mengalir melewati rongga didalam bambu itu hingga keluar di ujung yang akan disatukan dengan rangkaian bambu-bambu lainnya.

“sretttt………sreet….”
Tomi dan Sandi memutar-mutar bambu itu agar menancap kuat dengan bambu yang lainnya.

“krucuk..krucukkkkk….krucukkk….”
Suara aliran air dalam bambu itu terdengar.

Mereka serempak melakukan toss untuk merayakan pekerjaan yang telah usai.
Keempat pemuda itu kini berjalan menuruni tanah yang landai menyusuri rangkaian bambu-bambu itu. beberapa bambu yang mereka pasang ada yang kurang rapat, mereka segera membetulkannya.

Dua puluh meter sebelum mencapai pemukiman. Mereka dapat mendengar sorak-sorai dari kawanan yang berada disana. Sepertinya pekerjaan mereka berhasil, kini air sudah mengalir dengan deras melalui rangkaian bambu itu.
Ditengah pemukiman itu kini terdapat bangunan baru. Sebuah pondok kecil dimana rangkaian bambu itu bermuara. Sebuah batu besar diletakkan ditempat kucuran air dalam pondok itu. dari sisi pondok, air mengalir melalui parit kecil sedalam sepuluh sentimeter yang digali oleh Erik dan Rafi.

“yaaaayyyyyyyy………. akhirnya bisa mandi….”
“seneng banget rasanya……….”
“makasih ya cowo-cowo…… sekarang kita bisa mandi dengan tenang……..”
Kata-kata para perempuan itu seakan mengusir rasa lelah yang dirasakan oleh keempat pemuda yang baru saja sampai.

“haha…. yah.. kita juga ikut seneng…… kalian ucapin makasih sama Tomi tuh… ini kan idenya dia…” kata Aryo.
“makasih banyak Tomi……….” seru para gadis bersamaan.
Wajah Tomi bersemu merah, ia hanya tersenyum tanpa tau harus berkata apa.

Para gadis segera mandi terlebih dahulu.
Mereka berempat mandi bersama-sama dalam pondok kecil yang ditutupi oleh tirai rumput kering, setelah itu ketiga tante segera menyusul. Barulah para lelaki mandi bergantian.
Sisa makanan yang tinggal sedikit segera mereka masak. Jika tidak, pastilah bahan makanan itu segera membusuk dan tak enak lagi dimakan.
Sore itu, mereka menghabiskan waktu dengan suka cita.

~***~
Malam menjelang.
Satu persatu orang-orang telah meninggalkan perapian yang berkobar dan masuk kedalam pondok.
Aryo dan Rangga kini siap melakukan kewajiban mereka untuk berjaga malam itu.
Satu-satunya yang belum beranjak masuk selain mereka bertiga, adalah tante Sarah yang masih asyik menulis diatas buku kecil yang setia berada dibalik bajunya.

“nulis apaan sih tante? Asik banget kayaknya….” kata Aryo.
“iya tante, kok belom tidur..” Rangga menimpali.

Tante Sarah segera menutup buku itu, sama seperti biasanya jika seseorang menanyakan tentang hal itu.
“ohhh… cuma buku harian…. gak penting kok….” wanita paruh baya yang selalu mengenakan cadar diwajahnya itu segera menyelipkan buku dibalik bajunya.

“ohhh kirain apa.. pantesan tiap hari ditulis….” kata Aryo.
Tiba-tiba Indah keluar dari pondok dan duduk disamping Aryo.

“kok keluar lagi…? kamu tidur aja didalam….” kata Aryo.
“ngak bisa tidur… mau disini dulu sama kamu…..”
Dua insan itu segera berpagutan, seakan tak melihat bahwa ada dua orang lain bersama mereka.

Rangga yang tadinya duduk didekat Aryo kini bergeser menjauh.
“kenapa?” tanya tante Sarah.
“haha… takut ganggu tante…” jawab Rangga.

“mmhhh….. sayang… aku lagi kepingin… masuk sebentar yuk…” ajak Indah.
“ehh… jangan, sekarang giliran aku jaga….”

“ehemm………” Rangga berdehem.
“apa sih lo…. sirik aja de….” kata Indah. Kedua insan itu bergeser agak menjauh.

“liat tuh tan…. kayak gak ada orang lain aja…..” kata Rangga.
Tante Sarah hanya tertawa kecil dibalik cadarnya.
“tante….?” tanya Rangga.
“hmmm…. ada apa?”
“mau nanya aja…..” Rangga memandangi wajah tante Sarah.
“tanya aja….. kalo bisa pasti tante jawab…”

Rangga sejenak nampak ragu, namun ia tetap memberanikan diri bertanya.
“kenapa cadarnya gak pernah dilepas? Emang lukanya parah banget?”
“ohhhh….. lumayan lah….”
“mana? Coba liat?”
“jangan ahh…. tante malu…. muka tante jelek…” tante Sarah memalingkan wajahnya.

“mmmhhhh… sayang, aku udah gak tahan….” Indah mendesah.
Disisi lain api unggun yang berkobar. Sepasang muda-mudi itu sedang memadu kasih. Beratapkan langit, beralaskan tanah, apa yang mereka lakukan kini sudah jauh dari sekedar bercumbu.

Jemari tangan Aryo kini sudah bermain dibalik kaus jersey pemberian Naya yang dikenakan Indah. Mereka merebahkan diri, menghindari dari pandangan orang lain.
“aduh…. mulai panas……” Rangga terlihat salah tingkah melihat Aryo dan Indah yang sedang bermesraan. Ia merebahkan dirinya agar tidak memandangi mereka bercumbu.
“kenapa?” tanya tante sarah.
“ngak tante…. cuma gak pengen ganggu mereka aja…..” kata Rangga seraya tersenyum.
“ohhh kirain apa…… bener juga” tante Sarah ikut merebahkan dirinya disamping Rangga.

Diatas mereka kini terhampar lautan bintang-bintang.
Langit itu seakan hidup, bagai jutaan kunang-kunang yang beterbangan dilangit malam.

“sebenernya sih tante juga tertekan make cadar terus…” tante Sarah berkata pelan.
“yaudah, buka aja tante…. toh cuma aku yang liat….”
“haha…. paling nanti kamu ketakutan…”
“ngak…. suer… janji deh…. aku udah penasaran pengen liat muka tante kayak apa… masa sih udah kenal lama, tapi ngeliat mukanya aja gak pernah…”

Tante Sarah kini berbaring menyamping, memunggungi pondok tempat orang-orang beristirahat.
“yaudah….. kamu boleh liat…. tapi jangan lama-lama, tante takut ada yg ngintip….” perlahan, tangan tante Sarah membuka cadar yang menutupi wajahnya.
Rangga memandang dengan gugup, ia sudah siap melihat pemandangan mengerikan jika saja luka diwajahnya separah yang konon dikatakan.

Namun, setelah tante Sarah membuka cadarnya, yang terlihat kini justru raut wajah seorang wanita cantik. Di pipi kirinya memang ada bekas luka yang membuat kulit wajahnya mengkerut. Tapi selain itu, segalanya seakan sempurna. Hidungnya mancung, kulitnya putih, dan senyumnya begitu menawan.
“astaga….. tante cantik banget ternyata….” kata Rangga.
“ihh… jangan ngeledek, muka rusak gini dibilang cantik…..” tante Sarah segera menutupi wajahnya kembali.
“suer tante….. emang sih ada luka dikit, tapi selain itu tante cantik banget….”
“ahhh udah ah… jangan bahas itu lagi….”

Rangga menggeser posisi tidurnya mendekat kearah tante Sarah.
Dipandanginya mata tante Sarah yang terlihat sayu. Rangga mengulurkan tangannya kewajah yang tertutup cadar itu dan perlahan membuka tabir yang menyelimutinya.
Wajah tante Sarah kini kembali nampak dimatanya.
“udah.. tante malu…….” namun tante Sarah tak menghentikan Rangga.

“Ssssshh….mmmhh…….. enak sayang…iyaahh… disitu…. jilatin memek aku….” Indah meracau.
Perkataan itu terdengar ditelinga Rangga dan tante Sarah.

Aryo kini sedang menjilati vagina Indah.
Kepalanya dijepit erat oleh kedua paha yang tak terbalut oleh busana itu.
“aaaaaahhhhhh….aaakkkkkhhhhh…mmmhh…..oooohhh hhhhhh…”
Indah melenguh panjang. ia telah mencapai orgasmenya yang pertama.

“tante……….” Rangga berseru.
“hmmmm?? Kenapa?” tante Sarah memandang lekat-lekat wajah pemuda itu.
“mereka kayaknya keenakan banget….” mata mereka bertemu.
“emmm… terus.??”

Sesaat Rangga ragu, tapi akhirnya ia mengulurka tangannya menyentuh bagian pipi tante Sarah yang terluka.
“aku liat, selama tante disini, tante blum pernah ML…”
Sarah menepis telapak tangan Rangga dengan halus.
“jangan…….”

Namun, alih-alih menghentikan aksinya, telapak tangan Rangga kini meraba pundak tante Sarah.
“kenapa tante?”
“Dara mau kamu kemanain? Dia kan pacar kamu….. lagian, tante ini udah tua, mukanya rusak…” tante Sarah berkata lirih, namun ia tak menolak sentuhan yang dilakukan oleh Rangga.
“ohhh….. kirain apa…” Rangga tersenyum kecil.
“Dara sama aku ngak pacaran tante…..gak pernah ngapa-ngapain juga….. tante liat sendiri jutek gitu….. kita cuma temenan doang… beda sama Sandi…. dia sama Nasha mah emang pacaran…”

“ahhhhhh…ahhhhhhhh………mmmhh….. terus sayang, masukin yang dalem….” Indah kembali meracau. “oohh…..shh…ahhh..ahhh..ahhhhhhh enak banget memek kamu sayang…” Aryo pun tak mau kalah.
Rangga dan tante Sarah seketika bangkit dan melirik kearah Aryo dan Indah yang kini sudah bertindak lebih jauh. Mereka bersetubuh dalam posisi misionaris. Tubuh Aryo menindih Indah, pinggangnya dijepit oleh sepasang paha yang sekal dan berkulit kencang.
Indah terbaring ditanah, kaus yang ia pakai sudah tersingkap keatas. Payudaranya yang membusung, kini bergerak maju-mundur seiring dengan gerakan Aryo.

Tante Sarah dan Rangga menelan ludah melihat aksi mereka.
Mereka kembali merebahkan diri ditanah.

“tante………..” Rangga kembali merajuk.
“apa?” tante Sarah menyahut.
“masa tante gak pingin kaya mereka??” kini telapak tangan Rangga mengusap pinggang tante Sarah. Perlahan, usapan itu bergerak menyusuri lekuk tubuh tante Sarah.
Posisi mereka kini sangat berdekatan.
Entah siapa yang mendekat, namun kini jarak antara mereka tak sampai sepuluh senti.

“nnngghhh…Rangga geli…. udah…..” tante Sarah memejamkan matanya, kedua tangannya berhimpit di depan dadanya. Telapak tangannya ditumpuk sebagai bantal yang menyangga kepalanya.
“emang aku bukan tipe yang tante suka ya?” tanya Rangga.
Jemari tangannya kini sudah merayap masuk kedalam pakaian yang dikenakan tante Sarah.

“mmmmhhhhhh….b-bukan gitu..ohhhh Rangga…. jangan…” kendati berkata seperti itu, namun tante Sarah tetap membiarkan Rangga menyentuh tubuhnya.
“aku kurang ganteng yah tan?”
Rangga mulai menyentuh bagian bawah payudara tante Sarah dengan ujung jarinya.

Tante sarah tampak gemetar. Kedua pahanya dirapatkan.
“iya kan tante… pasti aku kurang ganteng…….”
Wajah Rangga semakin mendekati wajah tante Sarah. Ia dapat merasakan hembusan nafas wanita itu dengan jelas.
Tangan Rangga semakin nakal.
Tak mendapat penolakan yang berarti, ia semakin berani untuk menyentuh bongkahan payudara dibalik busana itu dengan telapak tangannya.

“ssssshhhh….mmmhh….. udah Rangga…..j-jangan…..mmhhhhh….”
Desahan yang keluar dari bibir tante Sarah semakin menjadi-jadi ketika Rangga memilin puting susunya yang telah mengeras dengan dua jari.

“apa jangan-jangan tante nganggap aku gak bisa muasin tante??”
Jarak antara wajah mereka semakin dekat. Tante Sarah tak dapat lagi menyembunyikan hasratnya yang semakin menggebu.
“nnngghhh….bu-kan…gitu….hhhaaaahh……aaahhh….”

“terus??”
Rangga semakin menggila. Ia mengeluarkan tangannya dari balik pakaian yang dikenakan tante Sarah. Kemudian ia menarik sebelah tangan tante Sarah. Jemari lembut milik wanita itu kini ia sentuhkan pada penisnya yang mengeras dibalik celana.

“apa jangan-jangan tante pikir kontol aku kecil??” Rangga semakin jauh menggoyak pertahanan wanita paruh baya itu.
“nnngaakk…. kontol.kam-mu…. gede…..aaaaaahhhh…….” Tante Sarah sedikit memekik ketika Rangga menyentuhkan tangan pada selangkangannya.
Vagina berbalut busana itu kini ditekan dengan kuat oleh jemari Rangga.
Sesekali ia menggesekkan tangannya pada vagina itu.

“nnnnngggggg…..aaaaahhh…udah…..Rangga…..ud ahh….ahhh..ahhhh”
Bibir tante Sarah menolak. Namun jemari tangannya malah meremas penis Rangga yang mulai mengeras.

“jangan tolak aku tante….. aku juga udah lama banget gak begituan….. mau kan?”
Jemari Rangga kini mulai menyelusup dibalik rok pendek yang dikenakan tante Sarah. Dengan lembut, ia menggesekkan jemarinya pada lipatan vagina tante Sarah.

“Rang-ngga….ahh…… j-jangan….. tante….malu….”
Tante Sarah telah dikuasai nafsu, tanpa sadar ia membuka kedua pahanya lebar-lebar. Membiarkan jemari Rangga bebas bermain di vaginanya yang ditumbuhi sedikit bulu.

“tante cantik…… tubuh tante bagus……” Rangga kembali memainkan perasaan tante Sarah. Ia ingin agar wanita itu tenggelam dalam buai kata-kata dan sentuhan penuh nikmat sebelum ia melancarkan aksinya lebih jauh.

“Aaaaaaahhhhh…..terus sayang…aku mau….nyampe….ahhhhhhh..ahhhh….” racauan Indah semakin menjadi-jadi.
Aryo kini menyetubuhinya dalam posisi doggy style.
Payudara ranum milik mahasiswi cantik itu berayun-ayun dibawah tubuhnya.

“ahhhhhh…ahh..ahhh…enak sayang? Ahhh…ahhh……” Racauan Aryo tak kalah binal.
“nnghhh…..ahhhh…..iyahhh……puasin aku sayang…….ahhhh….”

“plok…plokkk..plok…plokkk….”
Suara persetubuhan itu semakin menggoyahkan pertahanan tante Sarah.

Wanita itu kini terbaring disamping Rangga. Cadar yang menutupi wajahnya telah terlepas. Begitu juga dengan pakaian yang dikenakannya.
Kendati pakaian itu tak dilucuti sepenuhnya, namun Rangga dapat melihat keseluruhan lekuk tubuh sensual milik tante Sarah.

“tetek tante gede banget……… kulit tante mulus…”
Rangga menghirup napas panjang, menikmati aroma tubuh tante Sarah. Ia mendekatkan hidungnya hingga bersentuhan dengan perut tante Sarah. Perlahan ia menggerakkan wajahnya menyusuri lekuk tubuh wanita itu.

“tante udah tua….aahhhhhh…..nnghhh…… tetek tante udah kendor….ahhh…ahhh”
Dalih macam apa itu, jelas-jelas Rangga dapat melihat betapa besar payudara milik tante Sarah. Puting susunya telah mengeras. Di posisi tante Sarah yang terbaring, payudara itu menjulang keatas. Bagai gunung yang tinggi dengan puncak berwarna kemerahan.

“mmmmhhhh……menurut aku tante sexy banget…… tetek tante sekel dan kenceng……ahhh… aku mau isepin tetek tante…….”
Rangga menciumi belahan dada wanita itu. perlahan, ciuman itu bergulir memutari bukit kembar didepan wajahnya.

“nnnnnngggggghhhh….ahhh……Rang…gga…tante. .malu……”
Tante sarah merangkul leher Rangga dengan sebelah tangannya. Kepala Rangga dibenamkan pada sebelah payudaranya.

“aaaaakkkkkkkhhhh…..Rangga…aahh….ahhhhh…ah hh….” desahan nikmat itu kembali terdengar dari bibir tante Sarah.
Rangga kini sedang memainkan jari tengahnya di klitoris wanita itu.

“boleh kan aku isepin tetek tante??”
“mmmmmmhhhhh……hhhahhhh..”
Tante Sarah tak menjawab. Ia hanya mengangguk sedikit.

Merasa diberi lampu hijau, Rangga segera memainkan lidahnya di puncak gunung kembar itu.
Lidah itu menari memutari puting payudara kemerahan itu sebelum ia melumatnya.

“mmmhhhhhhhhh……ahhhhhh…..ahhhh…..”
Tante Sarah meracau hebat. Dengan sebelah tangan, tante Sarah menurunkan resleting celana Rangga. Kini, penis Rangga sudah keluar dari kandangnya. Penis yang mengeras itu digenggam dengan kuat oleh tante Sarah, seraya dengan perlahan ia menggerakkan jemarinya mengocok penis yang menegang itu.

Vagina tante Sarah yang sudah basah oleh cairan kenikmatan, membuat Rangga tak kesulitan untuk memasukkan jari tengah dan jari manisnya kedalam liang kenikmatan itu.
Dengan lembut ia menggerakkan jemarinya. Wajah Rangga terbenam diantara kedua payudara tante Sarah.

“oooohhhhhhh…sayangg……aku mau…keluar…aaaaaahhhhh..ahhh…ahhh….”
“aaarrghh…..aku juga…..ahhhh…ahhhhhhhh….”
Kedua insan itu kini terlibat bergumulan panas. Aryo menghujamkan penisnya sedalam mungkin, namun Indah yang sudah dikuasai nafsu tetap saja merasa kurang. Gadis itu memaju-mundurkan tubuhnya seirama dengan gerakan Aryo, berharap penis itu menyodok vaginanya lebih dalam lagi.
“Rangga….ahhhh….tante udah…gak kuat………mmmhh…..ahhh…ahhhh..ahhhh”
Tante Sarah kini menggerakkan pinggulnya. Sepertinya ia akan segera mencapai orgasmenya yang pertama.

Rangga mempercepat gerakannya mengocok vagina itu.
Dengan rakus, ia melahap bongkahan payudara itu bergantian. Lehernya di dekap kuat oleh lengan tante Sarah.

“ohhhh…..terus sayang….ahhhhhhhh…..ahhhhhhhhhhh……” Indah melenguh panjang.
Aryo merasakan penisnya dibasahi oleh cairan hangat.
“aahhh…ahhh..ahhhh…aaaaahhhh….”
Aryo semakin mempercepat gerakannya.

“mmmhh…..tante…mau kelua…aarr…ahhhhhh…ahhhhhh…ahhhhhhhhhh…. ” tante Sarah melenguh panjang.

“ahh…aaaaaaaaaaaaaaahhhhhh….” Aryo membenamkan penis itu sedalam mungkin
“croooott….crooott…crooottt…..”
Beberapa semburan sperma mengalir memenuhi vagina Indah.

Disaat yang bersamaan, jemari Rangga kini dibasahi oleh cairan hangat yang keluar dari vagina tante Sarah. Wanita paruh baya itu telah menggapai orgasme pertamanya.

“aaakkkhh….”
“plop…” Aryo mencabut penisnya yang masih menancap pada vagina Indah.
Pemuda itu merebahkan diri di tanah. Kehabisan tenaga dan napas. Aryo kini hanya terpejam menikmati penisnya yang masih berkedut pelan.

Rangga bersiap memulai aksi yang sebenarnya.
Pemuda itu kini menindih tubuh tante Sarah yang terkulai lemas karena orgasme yang pertama.

Dengan tangan kirinya ia mengarahkan penisnya kemulut vagina yang telah licin itu.
“sreeetttttt………..”
Dengan sekali tekanan, penis itu menyeruak masuk seluruhnya.

“aaakkkhhhhhhhhhhhhh………” tante Sarah memekik tertahan ketika penis sepanjang 15cm dengan diameter 4cm itu menyeruak masuk kedalam liang vaginanya.
“Ohhhhhh…gila……enak banget memek tante…ahhh….ahhh……” Rangga mulai meracau.
“ahhh…ahhhhhhhhh…..terus Rangga….ahhhh…ahhhh”

Indah telah bangkit dari posisi tidurnya.
Dengan rasa ingin tau yang besar, ia mengamati detik-detik disetubuhinya tante Sarah.

Tampak belum puas menikmati permainan itu, Indah kini mengusap-usap vaginanya dengan tangan. Aryo ikut bangkit, pemuda itu memeluk tubuh Indah dari belakang.
Jemari tangan Aryo kini menggantikan Indah mengusap vaginanya.
“kamu masih mau sayang??” Aryo berbisik di telinga Indah. Tangan yang lainnya sudah meremas lembut payudara Indah.
“hihi…..iyahh……”

Indah menengok kesamping, mendekatkan wajahnya dengan wajah Aryo.
Sesaat kemudian, mereka telah berpagutan. Tubuh Indah tenggelam dalam dekapan pemuda itu. payudara dan vaginanya sedang menerima rangsangan yang membuat hasratnya kembali bangkit.

Penis Aryo belum kembali bangkit setelah orgasmenya yang pertama.
Indah yang menyadari itu segera merebah diatas paha Aryo dan melumat penisnya.

“oooohhh…… terus sayang…. enak banget blowjob kamu…ahhh…”
Aryo kembali meracau, menikmati tiap detik ketika lidah Indah merayap dibatang penisnya yang masih terkulai.

“aaaahhhhhh…ahhhh….ahhhhhhh……..” racauan tante Sarah semakin menjadi-jadi.
Rangga kini menusuk vaginanya sambil menikmati payudara tante Sarah degan rakus.
“mmmhhhhhh….. tetek tante nikmat banget…..mmmhhh.. slurppp….”

“iyaaahh……. isepin terus Rangga…ahhh….ahhhh……ahhh”
Tubuh tante Sarah bergerak maju mundur. Punggungnya bergesekan dengan tanah. Jika saja tak ada pakaian yang menghalangi, mungkin punggungnya telah dipenuhi oleh luka lecet karena bergesekan dengan tanah yang kering.

“plok…plokk…plokkk….”
Suara itu menggema dalam udara bebas.
Dinginnya malam itu telah tergantikan oleh kehangatan tubuh dua insan yang sedang bersenggama. Takkala nafsu sudah membara, tak ada ‘apapun’ yang dapat menghalangi seseorang untuk meraih kenikmatan itu.

Indah mendorong tubuh Aryo merebah ketika penis pemuda itu telah mengeras kembali.
“uughh…. kenapa sayang??” tanya Aryo.
“sekarang giliran aku yang ambil alih….” Indah merayap naik keatas tubuh Aryo.
Ia menggerakkan pinggulnya, mencoba mengarahkan penis itu tanpa menyentuh.

“mmmmmhhhhh………..” Indah mendesah tertahan.
Ia menekan pinggulnya dengan perlahan. Penis itu kembali bertandang di kandang lawan.
“aaaahhhh…shhhhh..ahhh…ahhh…ahhh..ahhh”

Indah mulai bergerak. Ia bertumpu pada sepasang tangannya dan menggerakkan pinggulnya naik turun.
“sreet…sreet…sreett…….jjebbbbbb…..”
Sesekali, Indah sengaja menjatuhkan pinggulnya agar mendapat penetrasi yang sempurna.
Penis itu menancap dalam. Indah memutar-mutar pinggulnya perlahan, memainkan penis itu bagai sebuah tongkat kemudi jet tempur.

“ahhhhh…ahhhh…ahhhh….. stop Rangga…. tante mau pipis…..ahhh…” tante Sarah meracau.
“pipis ajahhh..tanteeee…ahhh..ahhhh….” Rangga sama sekali tak mengurangi tempo gerakannya.
“mmmhh…… seriiussss ini….ahhhhhh….ahhhhh……..” tubuh tante Sarah menegang.

“aaaaaakkkhhhhhhh…….” tante Sarah memekik.
“sseeeerrrrrrrrrrr………..”
Cairan itu menyemprot disela tubuh mereka yang terus berhimpitan.
Seakan tak terganggu oleh cairan yang membasahi tubuh mereka, Rangga tetap melanjutkan hujamannya.

“isepin toket… akuhhhh sayang… ahhhh….aahhh…aaaaahhh….” Indah meracau.
Gadis itu menyodorkan kedua payudaraya kewajah Aryo.

Seperti orang yang kelaparan, Aryo melahap bongkahan payudara itu dengan rakus.
Sesekali ia menggigit puting Indah dengan lembut, “aaaahhhh….enak sayang….”.
Aryo paham betul apa yang diinginkan oleh kekasihnya, Indah memang senang diperlakukan dengan sedikit nakal.
Biasanya Indah mampu mencapai hingga tiga orgasme dalam satu permainan dengan cara itu.

“crekk..creekkk..creekk…”
Gesekan antara penis Rangga dan vagina tante Sarah menimbulkan suara berdecak karena cairan yang membasahi tubuh mereka.
Tante Sarah telah hanyut dalam buat kenikmatan. Tubuhnya diam, tak sanggup mengimbangi permainan yang dilakukan Rangga. Wanita paruh baya itu hanya dapat mendesah

“uugghhhh….sayang…….. aku udah mau keluar ahhh…..” kata Aryo.
“tahan dulu…..ahhh…… cepet banget…….” Indah memprotes.
“abis….kamu bikin…..akuhhh… gak nahan….ahhhhhhhh……….ahhhh……”
Indah kembali bergerak dengan liar. Tubuhnya naik turun dengan cepat.
Cipratan cairan kewanitaan itu menempel di paha Indah. Vaginanya mulai berdenyut.

“ahhhhhh…ahhhhh….ahhhh…….. terus Rangga…. tante udah mau nyampeeee…..ahhh…”
“aagghhhh…ahhh…aku..jugaaaahhhhhhhhh…ahhhhhh hh..ahhhhhhhhhh…..” Rangga menggenjot tubuhnya lebih keras. Lubang vagina tante Sarah mengembang dan menyempit dengan cepat.

“aaakkhhhh..aaakkh…ahhhhh..ahhhh…….sedi kit lagi beib…. ta..haaann…..Aaaaaaaa… ahhhhhhhhhhh….” tubuh Indah menegang. Ia menekan pantatnya dengan kuat.
Aryo merasakan remasan-remasan kuat pada batang kejantananya.
“Aaaaagghhh…arghhh……ahhh..ahh”
Aryo kembali menggenjot tubuh Indah yang terkulai diatasnya. Tubuh gadis itu terlonjak-lonjak karena gerakan Aryo.

“sssssttt..ahhh…ahhhh..ahhh….enah Rangga…..mmh…..AAaaaaaaaaaaaaahh……” tante Sarah telah melenguh panjang. ia segera menyusul orgasme yang telah didapatkan oleh Indah.
“aaaaahhhh….ahhhhhhhh….ahhhhhhhhhhhhhh…….. ..”
Rangga menghujamkan penisnya sedalam mungkin.

“crrroooooootttttt……..crrrrooottt………crrr ooottttt…………….”
Semburan sperma membasahi vagina kedua wanita itu. Aryo dan Rangga mencapai orgasme itu bersamaan.

~***~
“buset….. itu mereka nekat banget ngesex diluar….” kata Tomi.
Ia sedang mengintip sebab keributan yang ia dengar dengan telinganya.

“hah?? Mana-mana????” Naya menyeruak, berusaha merebut tempat Tomi.
“buset…. masa sih?”

Diluar, keempat insan itu terkulai lemas.
Mereka merebah saling berpelukan.

“gila….Dara… itu si Rangga maen sama tante Sarah…” kata Naya.
“lhoo…emang kenapa?” tanya Dara. Ia menyembulkan kepalanya diatas kepala Naya.
Mereka kini berbagi tempat untuk mengintip dari celah tirai rerumputan yang terbuka vertikal.

“bukannya Rangga itu cowo lo?” tanya Naya.
“bukan kok………..” kata Dara.
“bukanya kata Sandi kalian deket…..?” Tomi ikut bertanya.
“cuma temen biasa, gak ada yg spesial…..” jawab Dara.

“emang gak pernah ngesex???” tanya Naya.
“idihhhhh………. sama dia???? Nooo..nooo..nooooo” Dara menggeleng

‘akhirnya ada satu orang yang waras…..’ batin Tomi.

~***~
Malam itu kembali mereka lalui dengan ‘tenang’. Well, selama yang dimaksud dengan tenang itu diluar kegaduhan yang terdengar sepanjang malam.
Indah dan tante Sarah menemani kedua pemuda itu berjaga hingga larut malam.
Lewat tengah malam, mereka baru kembali kedalam pondok untuk beristirahat.

Tomi dan Sandi kali ini menjadi orang pertama yang bangun pagi itu.
Mereka berdua berjalan kearah Aryo dan Rangga yang terbaring lemas.

“berapa ronde bro??? lemes banget kayaknya?” tanya Tomi.
“pokonya mantabb……” Aryo yang berbaring telungkup, berbicara tanpa menoleh.
“hahahaha……. gila, gue gak nyangka banget lo nekat ngajakin tante Sarah maen…..ck ck ck…” Sandi mengacak-acak rambut Rangga. Rangga hanya melemparkan senyum lebar hingga hampir semua giginya terlihat.

Hari itu, Tomi, Sandi, dan Erik memimpin tim pencari makanan. Seluruh anggota wanita ikut bersama mereka. Yah, kecuali Indah dan tante Sarah yang sedang kelelahan sepulang dari medan tempur semalam. Kedua wanita itu menemani Rafi menyiapkan perapian.

“sreekk…srekk….srekkk..”
Langkah-langkah mereka berbunyi ketika menembus semak belukar.
Tak ada lagi cukup makanan yang tersedia di pinggir sungai. Mereka memutuskan untuk mencoba mencari makanan lagi dihutan.
Ketiga lelaki itu masing-masing memegang senjata ditangan mereka.

“untung ya… tadi malem gak ada kejadian lagi…” kata Naya.
“iya…. kayanya kita tetep harus tidur rame-rame biar aman…..” Tomi menyahut.
“lahhhhhh…… masa gue selamanya mesti tidur sama Erik…. gue masi normal nih…..” kata Sandi.
“setan lo… lo pikir gue homo……” Erik menimpali.
“iya tuh…… gue sama Sandi kan pengen mesra-mesraan lagi…..uhhh.. iya kan sayang…” Nasha merangkul tangan Sandi.
“siang-siang aja sih maennya… pas keadaan lagi aman….” Tomi menimpali.
Dara dan kedua tante yang berada di barisan belakang hanya tertawa kecil.

Cukup jauh menjelajah hutan, mereka menemukan sebuah pohon jambu yang sedang berbuah. Sandi dan Erik segera memanjat pohon itu sementara Tomi menjaga para wanita dibawah yang memunguti buah-buahan yang dijatuhkan.
Dua keranjang kini telah dipenuhi oleh buah-buahan itu.
Sambil berjalan kembali, mereka memetik jamur dan daun pakis untuk dimasak.

Keberuntungan rupanya sedang berpihak pada mereka.
Setelah dua hari tak mencari makan dihutan, ternyata pohon dan jamur itu bersemi dengan cepat. Mereka juga menemukan semak-semak yang ditumbuhi buah arbei hutan berwarna merah.
Tampaknya, makanan hari ini akan didominasi oleh buah-buahan.

~***~
Matahari semakin meninggi. Hari mulai siang, mereka segera kembali kepemukiman untuk mempersiapkan makanan.
Mungkin tak ada yang memperhatikan gerak-gerik Naya, selain Tomi tentunya.

Sedaritadi, Naya selalu melayangkan pandangan kesudut-sudut hutan untuk mencari tanda-tanda jika pembunuh itu benar-benar bersembunyi disana.
Namun nihil, tak ada jejak kaki, tak ada tanda pondok untuk berlindung.

Ia semakin yakin dengan hipotesisnya bahwa pembunuh sebenarnya ada diantara kawanan mereka. Namun yang menjadi masalah adalah, bagaimana ia membuktikan dugaannya.

Tomi dan Naya berjalan di barisan paling belakang ketika rombongan itu kembali ke pemukiman.
“gimana kak? Ada petunjuk?” Tomi berbisik pelan ditelinga Naya.
Naya tak menjawab, ia melirik kearah Tomi dan hanya mengangguk. ia tak ingin seorangpun mencurigai bahwa dirinya mengetahui sesuatu.
Insting Tomi memberitahu bahwa ini bukanlah saat yang tepat untuk mengajukan pertanyaan lanjutan.

Ia hanya terdiam dan terus berjalan.
Setidaknya ia tenang, karena Naya telah mengetahui sedikit lebih banyak.

“ayo dong….cepetan jalannya…. gue udah gatel nih pengen mandi….” Nasha merajuk.
“mandi sama-sama lagi yuk……..” kata Dara.
“mau dong ikutannn……. “ Sandi menimpali.
“NGAKKK…….” Nasha dan Dara menyahut bersamaan.
“tega……” Sandi tertunduk lesu.
Seperti biasa, kedua tante itu hanya tertawa kecil bersama-sama. Mereka memang jarang berkomunikasi dengan anggota kawanan. Mungkin malu dan takut diejek karena dirinya seorang pedofil.

~***~
Asap putih mengepul.
Tante Sarah dan Indah sedang asyik memasak. Sementara Rafi sedang membelah kayu bakar dengan sebuah golok besar. Kayu-kayu itu ia tumpul di samping pondok yang ditempati olehnya. Sebuah atap pendek tanpa dinding dibangun disana. Atap itu didirikan untuk mencegah kayu bakar menjadi basah jika hujan turun.
Namun sepertinya sia-sia.
Semenjak tsunami besar itu melanda, hujan belum pernah turun di pulau itu.

Tomi saat ini sedang membelah jambu yang ia ambil dari dalam keranjang menjadi empat bagian samarata. Buah yang sudah siap disajikan itu ia letakkan diatas selembar daun jati lebar berbentuk oval.
Saat itu para perempuan sedang asyik mandi bersama didalam bilik kecil.
“rasainnn…….kenaaa….”
“ihhhhh jahat….. awas ya…. bales lohh….”
“kyaaaaa………”
“hahaha……..”

Racauan dan candaan itu terdengar jelas dari luar.
Sampai-sampai, Rafi gagal mengenai sebatang kayu yang sedang dibelahnya. Golok besar itu menancap di batang pohon tua tempat ia meletakkan batang kayu sebesar lengan orang dewasa.

“itu cewe-cewe kenapa sih…..” Rafi terdengar gusar.
“hahah… emang gitu…. cewe tuh suka heboh kalo udh ngumpul…” kata Erik.
“emm…. ngomong-ngomong Sheila itu kayak gimana orangnya?” tanya Tomi.

Tomi kembali teringat tentang cerita Erik saat malam terulangnya tragedi itu.
“ohhh dia….”

Tomi mengangguk.

“dia segalanya…… gak ada yang bisa gantiin dia dihati gue…..” jawab Erik
Pemuda itu terdiam sejenak.
“apapun bakal gue lakuin buat bisa ketemu sama dia….. sekali lagi…..” lanjutnya.
“hehehe…. lu sedikit lebih beruntung rupanya….” kata Tomi. Ia menundukkan wajahnya, memandang kearah buah jambu berwarna hijau yang sedang ia belah.
“kenapa? Bukanya lu punya Naya….?”

Tomi menghela napas sejenak.
“rasa gue buat Naya itu beda…..” kata Tomi.
“bedanya………?” Erik mengerling kearah Tomi yang sedang tertunduk.

“gue itu cinta sama Naya dari gue lahir….. dia itu kakak gue satu-satunya, dia baik, pengertian, ramah, perfect deh…. tapi, rasa cinta gue cuma sebatas saudara…. gue belum pernah punya seorang cewe yang teramat berarti, seperti Sheila dimata lu….” jawab Tomi.
Ia kembali membelah jambu yang digenggamnya, lalu meletakkannya diatas daun jati yang ia lebarkan ditanah.
“yahh…. emang gak bisa disamain…. tapi lu kan pernah ngesex sama Naya..” kata Erik.

Raut wajah Tomi kembali berubah.
“s-siapa yang bilang?”
“Aryo….” kata Erik santai.
“dia tau darimana?”
“ohhh…. berarti bener ya? Gue gak ngerti, dia tau darimana, mungkin Naya cerita ke Indah, trus Indah cerita ke Aryo… mungkin loh ya….”

‘sempakkkk…….. bener-bener ketauan….’
“yahhh……. sex itu kan gak selalu berarti cinta….” kata Tomi.
“maksudnya?”
“gue sering…… having sex, sama temen-temen cewe gue….. tapi itu cuma sebatas seneng-seneng aja…… gak lebih….. “
“apa itu artinya lo belum pernah paham arti cinta yang sebenernya?” tanya Erik.
“mungkin….”

Aryo hanya tersenyum.
“masa?”,”gue mau tanya deh….. kalo ada sesuatu terjadi sama Naya, perasaan lo gimana?”
“gimana apanya?”
“semisal…… Naya jadi korban disini………”

Tomi menelan ludah sejenak.
“tuh kan…. lu gak rela….. gue bisa jamin, lo gak akan ngebiarin hal buruk nimpa dia…bahkan kalo nyawa lu jadi tarohannya…” kata Erik.
“apa itu namanya cinta….?”
“ngak selalu begitu bro….. pemahaman cinta tiap manusia itu berbeda-beda… lu harus nemuin arti cinta yang sebenernya bagi diri lo…. contohnya Aryo…. cinta menurut dia, adalah rasa ingin selalu bersama dan memiliki…. kalo Rangga, menurut dia cinta itu adalah rasa saling melengkapi…. dia gak peduli siapa orangnya, selama dia dan cewe itu sama-sama senang…. apapun oke…” lanjut Erik.

“trus…. menurut lo pribadi, cinta itu apa?” Tomi balik bertanya.
“cinta itu pengorbanan….. saat kita bersedia ngorbanin apapun demi dia, saat kita menangis ngeliat pengorbanan dia untuk kita…. bagi gue, itu cinta….”
“apa lu pernah nangis ketika dia berkorban buat lu?”
“sering….yang terakhir, saat dia meninggal…. dia meninggal karena nyelametin gue….”

~***~
“La…. kita mesti keluar dari sini……” Erik berseru kepada gadis disampingnya. Gadis itu mengangguk.
Saat itu, kapal feri yang mereka naiki baru saja bergulung-gulung dihantam ombak besar.

Sempat terbalik sekali, hampir seluruh jendela kapal itu pecah.
Serpihan kaca itu menyeruak bersama air yang memancar dari jendela kapal berbentuk bundar itu. lorong-lorong kapal itu begitu gelap. Runtuh disana sini, balok-balok kayu besar menghalangi jalan mereka untuk melarikan diri.

“awass….”
Erik menarik tangan Sheila kedalam sebuah kompartemen. Mereka terjerembab.
Langit-langit lorong itu runtuh. Hampir saja menimpa mereka.

Reruntuhan itu mengunci mereka didalam.
Satu-satunya jalan keluar adalah melalui pintu yang mereka masuki.

Erik bangkit, ia meraih puing-puing reruntuhan itu. sekuat tenaga ia berusaha mengeluarkan mereka. Namun balok-balok kayu besar itu menghalangi dirinya untuk keluar.

“kita terjebak……… Erik.. aku takut…..”
“tenang, apapun yang terjadi, aku gak akan ngebiarin kamu kenapa-napa…..tenang ya….”

Erik membelai rambut Sheila dengan lembut, ia berusaha memenangkan gadis itu, walaupun saat ini dirinya mengalami kepanikan yang luar biasa.

“CRRRAAAAAAAAZZZZZZ…………”
Ombak besar kembali menghantam sisi kiri lambung kapal.

Kapal itu oleng, nyaris terbalik.
“Aaaaaaaaaaa………….”
Erik dan Sheila berteriak ketika tubuh mereka tiba-tiba terlempar.

Atap yang menaungi ruangan itu kini runtuh.
Erik sedang terbaring menelungkup dilantai. Saat itu Sheila melihat sebuah puing reruntuhan akan jatuh menimpa Erik.

“awaaaaaaaaassssssss……………..” Sheila berteriak.
Gadis itu segera bangkit, ia melompat keatas tubuh Erik yang baru saja menengok kebelakang kepalanya.

“Crrreeekkk………..”
Darah segar menyiprat, tetesan cairan merah itu membasahi dinding dan lantai kompartemen.

Mata Erik terbelalak memandang tubuh Sheila yang telah tertembus sebuah potongan kayu runcing sebesar lengan orang dewasa.
Sheila telah mengorbankan diri demi menyelamatkan Erik.

Darah terus menetes dari luka di perut Sheila.
Perlahan, tetesan darah itu mulai keluar dari bibir tipisnya yang terbuka sedikit.

“SHEILLLLLLAAAAAAAAAA………………….” Erik berteriak sejadi-jadinya.
Entah mendapatkan kekuatan darimana. Pemuda itu segera berdiri dan menyingkirkan puing-puing yang menimpa mereka.

~***~
Tetesan air mata membasahi pipi Erik.
Ia tak kuasa membendung rasa haru ketika mengingat kenangan itu.

“sorry….. gue gak maksud bikin lu keingetan lagi….” kata Tomi menyesal.
“gak apa-apa…..” Erik menyeka air matanya. “gue seneng masih bisa nginget keberadaan Sheila….”,” gue gak mau dia hilang dari hidup gue…. setidaknya, dalam ingatan gue dia akan terus hidup…”
Tomi bangkit dan menepuk pundak Erik.
“sabar ya bro….”

BAB 8 – Part 2 Bersambung……

Author: 

Related Posts

Comments are closed.